Oleh: Sultan Delpohon
“Bangsa anu poho kana sajarahna, bakal leungit arah ka hareupna.”
Tasikmalaya, 27 Agustus 1947. Jarum jam menunjuk sekitar pukul dua siang. Matahari meny
engat lereng-lereng perbukitan di sebelah barat Kota Tasikmalaya. Di sebuah bukit yang oleh masyarakat dahulu dikenal sebagai Bukit Kecapi—kini kawasan tersebut telah berubah menjadi Perumahan Bukit Kecapi Permai, di sekitar kawasan depan Kolam Renang Mangkubumi dan Kamandara Hotel—denyut revolusi kembali bergetar.
Di balik pepohonan dan semak belukar, pasukan gabungan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Laskar Rakyat, Hizbullah, dan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) telah mengambil posisi. Mereka menunggu dengan sabar konvoi militer Belanda yang bergerak dari arah Singaparna menuju Kota Tasikmalaya.
Hari itu bukan sekadar pertempuran biasa. Bukit Kecapi menjadi salah satu titik penting dalam perang gerilya mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Priangan Timur.
Bukit Kecapi, Medan Ideal Perang Gerilya
Secara geografis, Bukit Kecapi merupakan daerah perbukitan yang menguasai jalur utama Tasikmalaya–Singaparna. Kontur tanah yang tinggi memungkinkan para pejuang mengawasi setiap pergerakan musuh dari kejauhan.
Ketika iring-iringan kendaraan Belanda memasuki kawasan tersebut, pasukan gerilya segera melaksanakan strategi penyergapan (ambush). Dari lereng bukit, rentetan tembakan dilepaskan untuk menghentikan laju kendaraan logistik dan kendaraan lapis baja musuh.
Dokumen sejarah Posisi Historis Tasikmalaya Dalam Perang Kemerdekaan RI (1977) menyebutkan bahwa pasukan Republik bahkan menggunakan tiga pucuk mitraliur kaliber 12,7 milimeter untuk menggempur konvoi Belanda dari posisi yang lebih tinggi.
Tujuan utama serangan itu bukan semata-mata menghancurkan musuh, melainkan memperlambat gerak pasukan Belanda yang berusaha menguasai kembali wilayah Priangan Timur setelah Agresi Militer Belanda I.
Garis Pertahanan Siliwangi
Pertempuran Bukit Kecapi bukanlah perjuangan sekelompok orang semata. Ia merupakan bagian dari sistem pertahanan besar Divisi Siliwangi.
Di wilayah utara Tasikmalaya berdiri Sub-Wehrk
reise II yang berpusat di Panjalu di bawah koordinasi Kolonel Hidayat dan Mayor A.Y. Mokoginta. Sementara sektor selatan dan timur berada di bawah komando Letkol Sutoko, meliputi Manonjaya hingga perbatasan Ciamis.
Dari arah barat, Batalyon Husinsyah kembali menyusup ke basis-basis gerilya lama di kawasan Cisayong dan Singaparna dengan menerapkan strategi tabrak-lari (hit and run).
Kekuatan yang mempertahankan jalur Bukit Kecapi terdiri atas:
- Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP)
- Detasemen Garuda Putih
- Kesatuan Batalyon 3135 pimpinan Kapten Sani Lupias
- Unsur TKR, Hizbullah, dan laskar rakyat setempat
Mereka bergerak dalam satu komando mempertahankan Tasikmalaya dari upaya pendudukan kembali oleh Belanda.
Detasemen Garuda Putih
Salah satu pasukan yang paling dikenang dalam pertempuran di wilayah Tasikmalaya ialah Detasemen Garuda Putih di bawah pimpinan Tatang Aruman dan Kapten Burdah, sosok yang kemudian dikenal sebagai ayah dari musisi Rhoma Irama.
Pasukan ini terdiri atas tentara reguler Divisi Siliwangi, pemuda kampung, santri, hingga pelajar pejuang. Mereka bergerak cepat, berpindah-pindah markas, dan menguasai medan pegunungan.
Dalam perjalanan sejarahnya, Detasemen Garuda Putih juga menjadi tempat pembinaan banyak pejuang muda, termasuk Eddie Marzuki Nalapraya, yang kelak dikenal sebagai tokoh nasional sekaligus sesepuh pencak silat dunia.
Bala Bantuan dari Cirebon
Kesaksian sejarah juga mencatat hadirnya R.E. Sulaeman Kartasumitra bersama pasukan dari Cirebon yang datang memperkuat garis pertahanan Tasikmalaya.
Bersama rombongannya, ia memasuki wilayah Tasikmalaya ketika masyarakat sipil diperintahkan mengungsi ke arah Manonjaya demi menghindari pertempuran.
Tidak lama kemudian, datang pula pasukan Tentara Pelajar dari Cirebon di bawah pimpinan Salamoen A.T., Komandan Batalyon 400, yang memperkuat pertahanan jalur Singaparna hingga Tasikmalaya.
Kesaksian Lisan dari Masyarakat
Selain dokumen sejarah, kisah mengenai Pertempuran Bukit Kecapi juga hidup dalam ingatan masyarakat.
Penulis memperoleh cerita tersebut dari almarhum Ustaz Mumu, guru mengaji di Kampung Genteng, Cigantang, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya.
Menurut penuturan beliau, pertempuran di Bukit Kecapi berlangsung sejak siang hingga malam hari. Dentuman senjata dan kobaran semangat para pejuang membangkitkan keberanian rakyat Tasikmalaya untuk mempertahankan kemerdekaan tanpa kompromi terhadap kekuatan asing.
Sebagai tradisi lisan, kisah ini memperkaya pemahaman mengenai suasana perjuangan masyarakat pada masa revolusi dan menjadi pelengkap bagi sumber-sumber tertulis yang telah ada.
Gunung Yuda, Jejak Sunyi Para Syuhada
Jejak perjuangan itu diyakini tidak berhenti di Bukit Kecapi.
Di kawasan Gunung Yuda, Kampung Cigantang, Kecamatan Mangkubumi, terdapat kompleks makam yang oleh masyarakat dipercaya sebagai tempat peristirahatan sejumlah pejuang yang gugur dalam revolusi.
Menurut penuturan warga setempat, para korban pertempuran dibawa dari kawasan Paringgantun Kidul melewati Kampung Genteng menuju Gunung Yuda.
Di tempat itulah mereka dimakamkan dengan layak oleh ulama kharismatik Kyai Hiban, yang oleh masyarakat lebih dikenal dengan sebutan Apa Uben Gunung Yuda.
Kompleks makam tersebut hingga kini menjadi salah satu bukti fisik yang masih menyimpan memori perjuangan rakyat Tasikmalaya.
Catatan Penulis
Bagi penulis, sejarah Bukit Kecapi belum memperoleh perhatian yang layak. Kawasan yang dahulu menjadi medan pertempuran kini telah berubah menjadi kawasan permukiman. Pergantian fungsi ruang memang tidak dapat dihindari, tetapi jejak sejarah seharusnya tidak ikut menghilang.
Generasi hari ini dapat menikmati kehidupan yang damai, beribadah dengan tenang, dan membangun masa depan karena ada generasi sebelumnya yang mempertaruhkan darah dan nyawa demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Bukit Kecapi bukan sekadar nama tempat. Ia adalah saksi bisu ketika para pelajar, santri, tentara, dan rakyat bersatu mempertahankan Republik.
Sudah semestinya sejarah lokal seperti ini terus diteliti, didokumentasikan, dan dikenalkan kepada masyarakat agar tidak hilang ditelan waktu.
Referensi Utama
- Posisi Historis Tasikmalaya Dalam Perang Kemerdekaan RI (1977).
- Arsip perjuangan Divisi Siliwangi mengenai sistem Wehrkreise di Jawa Barat.
- Dokumentasi sejarah Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP).
- Kesaksian lisan almarhum Ustaz Mumu (Kampung Genteng, Cigantang, Mangkubumi, Kota Tasikmalaya), sebagaimana dituturkan kepada penulis.
- Tradisi lisan masyarakat Gunung Yuda mengenai makam para pejuang revolusi.
Pemerhati sejarah lokal priangan

No comments yet