FSP Parekraf Siap Perkuat Ekonomi Kreatif Tasikmalaya dari Akar Rumput Turun ke Lapangan, Fiona Callaghan Fokus Bangun Pariwisata Berbasis Rakyat

Gemini Generated Image 37ravf37ravf37ra

Ketua FSP Parekraf Siap Turun ke Basis: Fiona Callaghan Dorong Seni, Pariwisata, dan UMKM Tasikmalaya

Tasikmalaya — Ketua Federasi Serikat Pekerja Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (FSP Parekraf), Fiona Euis Tjantiari Callaghan, menegaskan komitmennya untuk berpihak pada pekerja seni dan pelaku ekonomi kecil dengan turun langsung ke berbagai sektor kreatif di daerah, khususnya Tasikmalaya.

Dalam agenda yang tengah disiapkan, Fiona menyebut akan mengunjungi berbagai ruang produksi kreatif—mulai dari sentra kerajinan, komunitas musik, hingga pelaku seni tradisional—sebagai langkah konkret membangun ekosistem pariwisata berbasis budaya yang berdampak langsung bagi masyarakat.

“Pariwisata tidak boleh hanya dinikmati oleh pelaku industri besar. Ia harus hidup dari bawah, dari rakyat kecil, dari para pengrajin, seniman, dan pelaku UMKM,” ujarnya dalam pernyataan yang diterima.

Fokus pada UMKM dan Ekonomi Rakyat

Fiona menekankan bahwa penguatan sektor ekonomi kreatif harus dimulai dari unit terkecil, yakni usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Menurutnya, banyak pelaku UMKM di Tasikmalaya yang memiliki kualitas produk tinggi, namun masih menghadapi persoalan klasik seperti akses pasar, pendampingan, dan perlindungan kerja.

Dengan pendekatan langsung ke lapangan, FSP Parekraf berupaya mengidentifikasi kebutuhan riil para pelaku usaha, sekaligus membangun jaringan distribusi dan promosi berbasis pariwisata lokal.

“Kerajinan, musik, seni pertunjukan—semuanya adalah kekuatan Tasikmalaya. Tinggal bagaimana kita kelola agar tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan mensejahterakan,” kata Fiona.

Pariwisata Berbasis Budaya

Cuplikan layar 2026 04 15 111406

Tasikmalaya, yang memiliki akar sejarah kuat sejak era Sukapura, dinilai memiliki potensi besar untuk mengembangkan pariwisata berbasis budaya. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya terintegrasi dengan kebijakan ekonomi dan perlindungan pekerja.

FSP Parekraf, kata Fiona, akan mendorong model pariwisata yang tidak hanya berorientasi pada kunjungan, tetapi juga pada keberlanjutan budaya dan kesejahteraan pelaku lokal.

Baca Juga  Gaji Guru Dipangkas Demi MBG? Pendidikan Kembali Jadi Korban Kebijakan Setengah Matang!

Kawasan seperti Gunung Galunggung, misalnya, dinilai tidak cukup hanya dijadikan destinasi wisata alam, tetapi juga harus dihidupkan dengan aktivitas seni dan budaya masyarakat setempat.

Misi: Dari Advokasi ke Aksi

Langkah Fiona dinilai sebagai upaya menggeser peran serikat pekerja dari sekadar advokasi normatif menuju gerakan yang lebih praksis dan menyentuh langsung kehidupan masyarakat.

FSP Parekraf tidak hanya akan memperjuangkan hak pekerja di atas kertas, tetapi juga berupaya menciptakan ruang ekonomi baru melalui penguatan sektor kreatif berbasis lokal.

“Kita ingin memastikan bahwa seni dan pariwisata bukan hanya menjadi etalase, tetapi menjadi sumber penghidupan yang nyata bagi rakyat kecil,” tegasnya.

Harapan untuk Tasikmalaya

Dengan pendekatan tersebut, FSP Parekraf berharap Tasikmalaya dapat menjadi contoh pengembangan ekonomi kreatif yang berakar pada budaya lokal sekaligus berorientasi pada kesejahteraan pekerja.

Kehadiran langsung ketua federasi di lapangan juga diharapkan mampu membangun kepercayaan sekaligus membuka ruang kolaborasi antara pekerja, pelaku usaha, dan pemangku kebijakan.

Jika langkah ini berjalan konsisten, maka bukan tidak mungkin Tasikmalaya akan tumbuh sebagai pusat seni dan pariwisata yang tidak hanya berkembang secara ekonomi, tetapi juga adil bagi mereka yang selama ini berada di lapisan paling bawah.

Cuplikan layar 2026 04 15 111453

Posted by Sultan Firman s

Pemerhati sejarah lokal priangan

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *