Media Tasikmalaya Undercover Soroti Respons Emotikon Seorang Kader PSI Saat Pembahasan Budaya Sukapura

ChatGPT Image 28 Jul 2026 16.48.11

KETIKA EMOTIKON LEBIH NYARING DARIPADA PENGHORMATAN

Oleh: Sultan Firman Sativa

Tasikmalaya Undercover

Ada yang ganjil di republik yang gemar berpidato tentang kebudayaan.

Setiap Hari Kebangkitan Nasional, setiap Hari Jadi Kota, setiap peresmian tugu, kata “budaya” dipanggungkan setinggi langit. Tetapi ketika budaya benar-benar dibicarakan, yang datang justru sepotong emotikon tertawa.

Barangkali memang beginilah zaman bekerja.

Sejarah dibaca sepintas.

Karuhun dikenang seperlunya.

Lalu semuanya ditutup dengan ikon wajah tertawa.

Dalam pembahasan mengenai Sukapura di kanal Tasikmalaya Undercover, sebuah akun yang disebut sebagai kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Tasikmalaya bernama Bara memberikan respons berupa emotikon tertawa. Publik tentu dapat menafsirkan sendiri makna respons tersebut. Namun, jika memang ditujukan kepada pembahasan budaya Sukapura, pertanyaannya sederhana: apa yang sebenarnya sedang ditertawakan?

Sukapura bukan panggung dagelan.

Sukapura adalah jejak panjang peradaban. Dari tanah itu lahir pemimpin, ulama, pejuang, seniman, petani, dan rakyat yang menjaga denyut kehidupan Priangan. Di sana ada nama-nama yang tak meminta dipuja, tetapi layak dihormati.

Sebagai pemerhati sejarah Priangan, saya memandang bahwa etika bukanlah pelengkap organisasi. Etika adalah fondasi. Tanpa etika, politik hanya menjadi keramaian yang kehilangan arah. Tanpa penghormatan kepada sejarah, modernitas hanya menjadi pakaian baru yang menutupi kemiskinan ingatan.

Ironinya, ketika sebagian orang bekerja merawat warisan budaya, masih ada respons yang oleh masyarakat dapat dipersepsikan sebagai bentuk pengabaian terhadap nilai-nilai tersebut.

Sosok seperti Fiona Euis Callaghan Wiratanoeningrat selama ini dikenal melalui berbagai kegiatan pelestarian budaya. Orang boleh berbeda pendapat tentang siapa pun. Namun menjaga sejarah, menghidupkan tradisi, dan memperkenalkan budaya Indonesia kepada generasi baru adalah kerja yang tidak patut dipandang ringan.

Baca Juga  MEDIA SOSIAL ADALAH GERAKAN

Politik memiliki masa jabatan.

Budaya memiliki umur peradaban.

Jabatan selesai lima tahun.

Karuhun dikenang berabad-abad.

Karena itu, setiap kata, setiap simbol, bahkan setiap emotikon di ruang publik membawa makna. Jika benar emotikon itu bukan ditujukan kepada budaya Sukapura, penjelasan tentu akan mengakhiri berbagai tafsir. Namun apabila memang demikian adanya, masyarakat juga berhak menilai apakah sikap tersebut selaras dengan penghormatan terhadap warisan budaya.

Bangsa yang besar bukan hanya pandai membangun gedung.

Bangsa yang besar tahu kapan harus berbicara.

Dan yang lebih penting, tahu kapan harus menaruh hormat.

Posted by Sultan Firman s

Pemerhati sejarah lokal priangan

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *