Raden Adipati Singaperbangsa: Jejak Sang Pendiri Karawang, Dari Garis Galuh hingga Lumbung Pangan Mataram

ChatGPT Image 28 Jul 2026 02.39.26

Oleh: Sultan Firman Sativa, S.Pd. (Sultan Delpohon)
Media: Tasikmalaya Undercover

Raden Adipati Singaperbangsa: Sang Pendiri Karawang dalam Pusaran Politik Mataram dan Tanah Sunda

Sejarah Karawang sering kali dipahami hanya sebagai kisah sebuah daerah yang tumbuh menjadi lumbung padi nasional. Namun jauh sebelum identitas itu melekat, wilayah di pesisir utara Jawa Barat tersebut merupakan kawasan strategis yang menjadi perebutan kekuatan politik antara Kesultanan Banten, Kesultanan Mataram, hingga kemudian Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).

Sejarah Raden Singaperbangsa Karawang Bupati Pertama Karawang

 

Di tengah dinamika itu muncul seorang tokoh yang namanya terus hidup dalam ingatan masyarakat: Raden Adipati Singaperbangsa atau Adipati Kertabumi IV, bupati pertama Karawang yang memimpin sejak 1633 hingga 1677. Ia bukan sekadar pejabat administratif, melainkan figur yang membangun fondasi pemerintahan, pertahanan, sekaligus sistem pangan yang menjadikan Karawang memiliki arti strategis dalam sejarah Nusantara.

Keterangan foto tidak tersedia.

Dalam historiografi modern, Singaperbangsa dapat dibaca sebagai representasi elite lokal Sunda yang berhasil beradaptasi dengan struktur politik Mataram tanpa kehilangan legitimasi genealogisnya sebagai bangsawan Pasundan.

Dari Trah Galuh Menuju Karawang

Singaperbangsa lahir dari keluarga bangsawan yang memiliki legitimasi politik kuat di tanah Sunda.

Ayahnya adalah Raden Wiraperbangsa, yang dikenal sebagai Adipati Kertabumi III, penguasa wilayah Kertabumi, salah satu cabang kekuasaan yang berakar pada tradisi Kerajaan Galuh.

Melalui garis keturunan tersebut, Singaperbangsa juga diyakini masih memiliki hubungan darah dengan Prabu Geusan Ulun, penguasa terakhir Kerajaan Sumedang Larang yang terkenal sebagai penerus simbol legitimasi Mahkota Binokasih Sanghyang Pake dari Pajajaran.

Keterangan foto tidak tersedia.

Silsilah ini bukan sekadar kebanggaan genealogis. Dalam tradisi politik Nusantara abad ke-17, garis keturunan merupakan sumber legitimasi yang menentukan penerimaan masyarakat terhadap seorang pemimpin.

Karena itu, ketika kemudian Singaperbangsa menerima mandat dari Mataram, ia sesungguhnya membawa dua identitas sekaligus: bangsawan Sunda dan pejabat kerajaan Jawa.

Warisan Sang Ayah dan Mandat Sultan Agung

Lahirnya Kabupaten Karawang tidak dapat dilepaskan dari peristiwa politik yang melibatkan ayah Singaperbangsa.

Baca Juga  Fiona Callaghan, M.Si Menerima Penyematan Nama Leluhur "Raden Siti Dewi Munigar" dari Masyarakat Adat Kabuyutan Besek

Raden Wiraperbangsa berhasil memukul mundur pasukan Pangeran Nagaragan dari Kesultanan Banten yang berusaha memperluas pengaruhnya ke wilayah Karawang.

Atas keberhasilan tersebut, Sultan Agung Hanyokrokusumo menghadiahkan sebuah keris pusaka bernama Karosinjang sekaligus memberikan mandat untuk memimpin Karawang.

Namun takdir berkata lain.

Sebelum sempat menjalankan amanah itu, Wiraperbangsa wafat di Galuh. Mandat tersebut kemudian diwariskan kepada putranya, Singaperbangsa.

Peresmian pengangkatannya dilakukan pada 14 September 1633 melalui sebuah dokumen penting yang dikenal sebagai Piagam Pelat Kuning Kandang Sapi Gede, sebuah surat keputusan kerajaan yang ditulis menggunakan aksara Jawa di atas pelat kuningan.

Piagam tersebut menjadi tonggak lahirnya pemerintahan Karawang secara resmi.

Piagam Pelat Kuning: Fondasi Administrasi Karawang

Bagi sejarawan, Piagam Pelat Kuning bukan hanya simbol kekuasaan, melainkan sumber primer yang memperlihatkan bagaimana Mataram mengelola daerah perbatasannya.

Dalam piagam tersebut disebutkan beberapa mandat penting kepada Singaperbangsa.

Pertama, ia diberi tanggung jawab menjaga wilayah negara dari batas Sungai Cipamingkis di sebelah barat hingga Sungai Cilamaya di sebelah timur.

Kedua, ia diperintahkan menjaga lumbung-lumbung padi kerajaan sebagai sumber logistik perang.

Ketiga, Mataram mengirim sekitar 2.000 prajurit beserta keluarganya untuk menetap di Karawang, membuka lahan pertanian, sekaligus memperkuat pertahanan menghadapi ancaman VOC.

Melalui kebijakan tersebut terlihat bahwa Karawang sejak awal dirancang bukan sekadar wilayah administratif, melainkan benteng logistik Mataram di pesisir utara Jawa.

Karawang Menjadi Lumbung Pangan Kerajaan

Ketika memimpin Karawang, Singaperbangsa tidak hanya membangun birokrasi.

Ia juga membuka kawasan persawahan dalam skala besar.

Strategi ini merupakan bagian dari politik pangan Sultan Agung yang membutuhkan suplai beras bagi pasukan Mataram yang tengah berkonfrontasi dengan VOC di Batavia.

Tidak berlebihan jika kemudian Karawang berkembang menjadi salah satu sentra produksi padi terbesar di Jawa Barat.

Baca Juga  Fiona Callaghan, M.Si Menerima Penyematan Nama Leluhur "Raden Siti Dewi Munigar" dari Masyarakat Adat Kabuyutan Besek

Fondasi sejarah itulah yang membuat julukan “lumbung padi” melekat hingga masa modern.

Pemerintahan Awal Karawang

Pusat pemerintahan pertama Karawang berada di Bunut Kertayasa, kawasan yang kini termasuk Kelurahan Karawang Kulon.

Dalam menjalankan pemerintahan, Singaperbangsa dibantu oleh Aria Wirasaba sebagai wakil bupati.

Struktur birokrasi tersebut menunjukkan bahwa pemerintahan lokal telah memiliki pembagian kewenangan yang cukup jelas, meski masih berada di bawah sistem kerajaan Mataram.

Sebagai kepala daerah, Singaperbangsa menjalankan dua fungsi sekaligus.

Ia adalah administrator sipil sekaligus pemimpin militer.

Melawan VOC Melalui Pertanian

Perlawanan terhadap VOC pada abad ke-17 tidak selalu dilakukan melalui peperangan.

Singaperbangsa memilih pendekatan yang lebih strategis.

Dengan memperkuat produksi pangan, ia memastikan pasukan Mataram memiliki logistik yang cukup.

Dalam perspektif sejarah ekonomi, kebijakan tersebut merupakan bentuk perang logistik.

Tanpa beras, pasukan sebesar apa pun tidak akan mampu bertahan lama.

Karena itu, sawah-sawah Karawang sesungguhnya menjadi bagian penting dari strategi perang Mataram.

Wafatnya Sang Adipati

Setelah memimpin sekitar empat dekade, Singaperbangsa wafat pada tahun 1677.

Ia dimakamkan di Manggung Ciparage, Desa Manggungjaya, Kecamatan Cilamaya Kulon.

Kompleks makam tersebut hingga kini menjadi salah satu situs sejarah dan tujuan ziarah masyarakat Karawang.

Selain sebagai tempat penghormatan kepada pendiri daerah, kawasan ini juga menjadi pengingat bahwa sejarah lokal memiliki akar yang panjang.

Tradisi Lisan yang Menyertai Singaperbangsa

Di luar catatan sejarah resmi, masyarakat Karawang juga mewariskan berbagai kisah lisan mengenai Singaperbangsa.

Tradisi ini berkembang dari generasi ke generasi dan menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat.

Dalam kajian sejarah, kisah-kisah tersebut dipahami sebagai folklor atau tradisi lisan yang mencerminkan nilai budaya masyarakat. Karena tidak seluruhnya dapat diverifikasi melalui sumber sejarah primer, keberadaannya perlu dibedakan dari fakta historis.

Pantangan Memelihara Kambing di Ciranggon

Cerita rakyat menyebutkan bahwa ketika terjadi pergolakan pada masa Trunajaya, kepala Singaperbangsa yang dibawa para pengikutnya disamarkan sebagai kepala kambing agar tidak diketahui musuh.

Baca Juga  Fiona Callaghan, M.Si Menerima Penyematan Nama Leluhur "Raden Siti Dewi Munigar" dari Masyarakat Adat Kabuyutan Besek

Dari kisah tersebut lahirlah pantangan turun-temurun bagi sebagian warga Desa Ciranggon untuk memelihara maupun menyembelih kambing sebagai bentuk penghormatan kepada sang adipati.

Pantangan Rumah Bertingkat

Di sekitar kompleks makam Manggung berkembang kepercayaan bahwa rumah warga tidak boleh lebih tinggi dari area makam.

Makna simboliknya ialah menjaga penghormatan terhadap leluhur dan pemimpin terdahulu.

Larangan Mengenakan Pakaian Hitam

Sebagian peziarah juga masih mempercayai anjuran untuk tidak mengenakan pakaian hitam polos saat berziarah ke makam Singaperbangsa.

Tradisi tersebut dimaknai sebagai bagian dari etika menghormati kawasan yang dianggap sakral.

Mitos Buaya Putih dan Suara Lesung

Cerita lain menyebut keberadaan buaya putih gaib yang diyakini menjaga kawasan makam.

Ada pula kisah mengenai suara lesung yang terdengar pada malam tertentu, yang dikaitkan dengan sejarah Karawang sebagai lumbung padi Mataram.

Dalam perspektif antropologi budaya, kisah-kisah semacam ini merupakan bentuk warisan folklor yang memperlihatkan bagaimana masyarakat memaknai hubungan antara sejarah, ruang, dan identitas lokal.

Lebih dari Sekadar Pendiri Daerah

Raden Adipati Singaperbangsa bukan hanya nama yang diabadikan sebagai ikon Kabupaten Karawang.

Ia adalah simbol transformasi politik di wilayah Pasundan pada abad ke-17, ketika elite lokal harus bernegosiasi dengan kekuatan kerajaan besar sekaligus menghadapi ekspansi kolonial.

Warisannya bukan hanya berupa sistem pemerintahan, tetapi juga gagasan tentang pentingnya ketahanan pangan, pengelolaan wilayah, dan kepemimpinan yang berakar pada legitimasi budaya.

Empat abad kemudian, nama Singaperbangsa masih dikenang. Bukan semata karena ia bupati pertama Karawang, melainkan karena dari tangannya sebuah kawasan perbatasan berkembang menjadi salah satu wilayah paling penting dalam sejarah Jawa Barat.

Penulis:
Sultan Firman Sativa, S.Pd. (Sultan Delpohon)
Media Tasikmalaya Undercover

 

 

Posted by Sultan Firman s

Pemerhati sejarah lokal priangan

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *