Oleh: Sultan Delpohon
Catatan sejarah dan arsip lokal sering menyimpan nama-nama yang tidak sempat masuk ke dalam buku-buku besar sejarah nasional. Salah satunya adalah Djaja Wiriasumitra, tokoh pergerakan dan politik NU dari Tasikmalaya yang jejak perjuangannya patut ditelusuri kembali
TASIKMALAYA — Sejarah Indonesia tidak hanya dibangun oleh nama-nama yang kemudian terpahat dalam buku pelajaran, tugu, dan nama jalan. Di balik sejarah besar Republik, terdapat orang-orang yang bekerja dalam senyap: mendidik rakyat, membangun organisasi, melatih pemuda, dan ikut mempertahankan kemerdekaan ketika negara yang baru lahir belum memiliki banyak perangkat untuk melindungi dirinya sendiri.
Salah satu nama yang menarik untuk kembali dibicarakan adalah Djaja Wiriasumitra, tokoh yang memiliki keterkaitan kuat dengan pergerakan pemuda, pendidikan, perjuangan bersenjata, serta politik Nahdlatul Ulama (NU)Â di Jawa Barat.
Tulisan ini bukan dimaksudkan sebagai keputusan akhir mengenai kedudukan Djaja Wiriasumitra dalam historiografi Indonesia. Ia lebih merupakan upaya membuka kembali arsip dan ingatan lokal agar sebuah nama yang selama ini relatif tenggelam dapat diperiksa, dikaji, dan ditempatkan secara proporsional dalam sejarah Tasikmalaya.
Dari ruang kelas menuju medan perjuangan
Berdasarkan arsip yang menjadi bahan penelusuran penulis, Djaja Wiriasumitra mengawali kiprahnya di dunia pendidikan sebagai guru bantu di Karsamenak, Kawalu. Pada 1944, ia kemudian diangkat di Garut.
Namun aktivitasnya tidak berhenti di ruang pendidikan.
Pada masa pendudukan Jepang, Djaja tercatat aktif dalam pembinaan dan pengorganisasian pemuda. Ia disebut terlibat dalam lingkungan Seinen Kun Rescho di Kecamatan Kawalu, serta menjalankan aktivitas pelatihan barisan rakyat dan pemuda.
Di titik ini, sosok Djaja menarik untuk dilihat bukan semata-mata sebagai seorang guru atau aktivis organisasi. Ia merupakan bagian dari generasi muda Tasikmalaya yang hidup dalam masa ketika pendidikan, organisasi kepemudaan, dan perjuangan politik sering kali saling berkelindan.
Bagi generasi tersebut, menjadi pendidik bukan berarti menjauh dari persoalan bangsa. Sekolah, organisasi pemuda, dan masyarakat menjadi ruang pembentukan kesadaran politik sekaligus tempat menyiapkan generasi yang kelak berhadapan dengan perubahan besar setelah Jepang menyerah.
Ketika Sekutu kembali, perjuangan belum selesai
Proklamasi 17 Agustus 1945 tidak serta-merta mengakhiri konflik.
Kembalinya Sekutu dan munculnya berbagai kekuatan politik serta militer membuat wilayah-wilayah di Indonesia kembali menghadapi ketegangan. Tasikmalaya dan kawasan Priangan Selatan pun tidak berada di luar pusaran tersebut.
Dalam penelusuran arsip yang digunakan penulis, Djaja Wiriasumitra kemudian disebut terpilih sebagai pemimpin PPN (Perdjuangan Pembelaan Nasional)Â yang bergerak dalam perjuangan dan gerilya di wilayah Tasikmalaya Selatan.
Di sinilah jejaknya menjadi penting.
Perjuangan mempertahankan kemerdekaan bukan hanya kisah tentang tokoh yang berdiri di podium atau tercatat dalam dokumen pemerintah pusat. Di tingkat lokal terdapat jaringan pemuda, guru, ulama, masyarakat, dan kelompok perjuangan yang menjalankan peran masing-masing.
Djaja Wiriasumitra berada dalam lingkungan sejarah tersebut.
Dari perjuangan lokal menuju panggung politik NU
Setelah masa revolusi, perjalanan Djaja tidak berhenti. Ia kemudian masuk ke dalam dinamika politik Nahdlatul Ulama.
Pada dekade 1950-an, NU bukan sekadar organisasi sosial-keagamaan. NU telah menjadi salah satu kekuatan politik penting Republik Indonesia.
Pemilu 1955 menjadi salah satu titik penting. Partai NU berhasil menempatkan dirinya sebagai salah satu kekuatan politik terbesar secara nasional. Di Jawa Barat, peta politik memang sangat kompleks dan Masyumi mempunyai pengaruh kuat. Namun wilayah Priangan Timur, khususnya Tasikmalaya, memiliki basis masyarakat santri yang kuat dan menjadi salah satu ruang penting perkembangan politik Islam.
Dalam konteks inilah hubungan antara NU, Tasikmalaya, dan Djaja Wiriasumitra menjadi menarik untuk diteliti lebih jauh.
Djaja kemudian tercatat sebagai anggota DPR RI hasil Pemilu 1955 untuk periode 1956–1959, mewakili kekuatan politik NU.
Masuknya seorang tokoh berlatar belakang perjuangan lokal dan pendidikan ke parlemen nasional memperlihatkan satu hal penting: politik nasional pada masa itu tidak hanya dibentuk oleh elite Jakarta. Tokoh-tokoh dari daerah membawa pengalaman sosial, pendidikan, organisasi, dan perjuangan masing-masing ke dalam lembaga negara.
Dari Demokrasi Liberal ke Demokrasi Terpimpin
Karier legislatif Djaja berlangsung dalam dua periode politik yang berbeda.
Pada masa Demokrasi Liberal, DPR hasil Pemilu 1955 menjadi arena perdebatan politik yang sangat dinamis. Fraksi-fraksi partai memainkan peranan penting dalam pembentukan pemerintahan dan penyusunan kebijakan negara.
Perubahan besar terjadi setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959.
DPR hasil Pemilu 1955 kemudian digantikan dengan DPR Gotong Royong (DPR-GR). Dalam susunan politik baru tersebut, Djaja Wiriasumitra kembali mendapat tempat sebagai anggota DPR-GR dari unsur Partai NU.
Perubahan ini sekaligus menandai perubahan karakter politik Republik. Sistem kepartaian dan parlemen mengalami penataan ulang, sementara Presiden Soekarno memperkenalkan gagasan Nasakom—Nasionalisme, Agama, dan Komunisme sebagai salah satu kerangka politik Demokrasi Terpimpin.
Bagi tokoh NU seperti Djaja, masa tersebut tentu menghadirkan dinamika politik yang tidak sederhana. NU harus menempatkan dirinya di tengah pertarungan berbagai kekuatan politik yang semakin tajam.
Mengapa nama Djaja Wiriasumitra menjadi penting?
Pertanyaan paling mendasar bukan sekadar siapa Djaja Wiriasumitra?
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Mengapa seorang tokoh yang pernah berada dalam perjuangan pemuda, pendidikan, gerilya, kemudian parlemen nasional, begitu kurang terdengar dalam ingatan sejarah Tasikmalaya?
Jawabannya mungkin tidak sederhana.
Sejarah lokal sering kali kalah oleh narasi sejarah nasional. Tokoh yang tidak masuk dalam buku pelajaran atau monumen resmi perlahan kehilangan tempat dalam ingatan generasi berikutnya.
Padahal sejarah tidak hanya milik mereka yang namanya tercetak besar.
Sejarah juga milik guru di kampung, pemuda yang berorganisasi, masyarakat yang bertahan dalam masa revolusi, dan para politisi daerah yang membawa suara masyarakatnya ke Jakarta.
Djaja Wiriasumitra dapat dibaca melalui kerangka tersebut.
Arsip sebagai pintu masuk, bukan akhir penelitian
Apa yang disampaikan dalam tulisan ini bersumber dari penelusuran dan arsip yang dimiliki penulis. Karena itu, tulisan ini sebaiknya dipandang sebagai catatan awal, bukan sebagai klaim historiografis yang sudah final.
Masih diperlukan penelitian lebih lanjut terhadap arsip parlemen, dokumen organisasi NU, arsip daerah, surat kabar sezaman, dokumen perjuangan kemerdekaan, serta kesaksian keluarga dan masyarakat yang mengetahui perjalanan hidup Djaja Wiriasumitra.
Jika bukti-bukti tersebut dapat ditemukan dan diverifikasi, maka sejarah lokal Tasikmalaya akan memperoleh satu kepingan penting untuk memahami hubungan antara pendidikan, gerakan pemuda, perjuangan kemerdekaan, NU, dan politik nasional pada masa awal Republik.
Jangan biarkan sejarah berhenti di ruang arsip
Pada 10 November 2025, bertepatan dengan momentum Hari Pahlawan, penulis mencoba mengangkat kembali kisah seorang tokoh yang selama ini tidak banyak terdengar di ruang publik Tasikmalaya.
Bukan untuk menciptakan pahlawan baru.
Bukan pula untuk memaksakan sebuah nama masuk ke dalam daftar tokoh sejarah.
Tetapi untuk mengajukan pertanyaan sederhana kepada generasi sekarang:
Berapa banyak pejuang lokal yang kita kenal hanya karena sejarah resmi belum sempat menuliskan namanya?
Djaja Wiriasumitra adalah salah satu nama yang patut kembali dicari jejaknya.
Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang hafal nama para pahlawannya, melainkan bangsa yang mau membongkar arsip, memeriksa bukti, dan menghidupkan kembali ingatan terhadap orang-orang yang pernah bekerja untuk republik sebelum sejarah resmi mengabadikan mereka.
Tasikmalaya memiliki sejarah panjang.
Dan mungkin, di antara tumpukan arsip yang belum banyak disentuh, masih terdapat nama-nama lain yang menunggu untuk ditemukan kembali.
Sultan Delpohon
Catatan sejarah dari arsip dan ingatan lokal Tasikmalaya
10 November 2025
Pemerhati sejarah lokal priangan

No comments yet