Oleh Redaksi
Sejarah tidak selalu ditulis oleh mereka yang berkuasa. Ada sejarah yang lahir dari tangan-tangan kasar para pekerja, dari peluh yang menetes di atas kain mori, dari perlawanan terhadap sistem yang membuat rakyat terus hidup dalam lilitan utang.
Di Tasikmalaya, sejarah itu bernama Koperasi Mitra Batik (KMB).
Pada dekade 1930-an, kehidupan para pengrajin batik berada dalam tekanan sistem ijon. Mereka meminjam kain mori kepada para pedagang, lalu membayarnya dengan batik yang telah selesai dibuat. Sekilas tampak sebagai bantuan modal, tetapi dalam praktiknya para pedagang memperoleh keuntungan yang jauh lebih besar, sementara para pembatik tetap terikat dalam lingkaran utang yang sulit diputus.
Di tengah keadaan itulah muncul tiga tokoh yang memilih melawan keadaan: Enie, Dion, dan Naseh.
Mereka menyadari bahwa selama alat produksi dan modal dikuasai pedagang, pengrajin akan terus menjadi buruh bagi keuntungan orang lain. Jalan keluar yang mereka bayangkan bukanlah belas kasihan, melainkan organisasi ekonomi rakyat: koperasi.
Untuk mewujudkan gagasan tersebut, Enie berkonsultasi kepada pamannya yang memahami sistem perkoperasian. Atas bantuan Juragan Sumirat, Enie kemudian diperkenalkan kepada Juragan Kosasih (R.S.A. Kosasih), pejabat Ambtenaar voor Coöperatie en Binnenlandsche Handel, Kepala Kantor Koperasi dan Perdagangan Dalam Negeri untuk Resort Priangan Timur di Bandung.
Dari pertemuan itu diperoleh syarat penting: sebuah koperasi harus didirikan oleh sembilan orang.
Tanpa menunggu lama, Enie, Dion, dan Naseh segera mengajak para pengrajin batik lain bergabung. Mereka kemudian membentuk Panitia Sembilan, yang terdiri atas:
- Enie
- Dion
- Naseh
- Badri
- Endong
- Kartaradibrata
- Kartasasmita
- Sayuti
- Sumiratmadja
Merekalah fondasi awal berdirinya gerakan ekonomi rakyat yang kelak menjadi tonggak sejarah pembatikan Tasikmalaya.

Pada 17 Januari 1939, lahirlah Koperasi Tukang Batik, yang kemudian dikenal sebagai Koperasi Mitra Batik (KMB).
Perjuangan mereka tidak berhenti pada pendirian organisasi. Salah satu pekerjaan terberat adalah melunasi utang-utang para pengrajin kepada para pedagang mori. Proses itu berjalan dengan penuh kesulitan hingga akhirnya mereka memperoleh bantuan dari Asisten Residen Tasikmalaya, Meneer Vikencher.
Perlahan, KMB mulai membebaskan para pembatik dari ketergantungan terhadap sistem ijon. Koperasi mampu membeli kain mori sendiri tanpa harus melalui tengkulak. Bahkan, menurut catatan sejarah, KMB menjalin hubungan dagang dengan NV Internation di Cirebon untuk pengadaan barang yang berkaitan dengan perdagangan hingga ke Belanda.
Tonggak penting berikutnya terjadi pada 28 Agustus 1941, ketika akta resmi pendirian Koperasi Mitra Batik diterbitkan. Sejak saat itu, koperasi tidak hanya menjadi organisasi ekonomi, tetapi juga simbol kemandirian para pengrajin batik Tasikmalaya.
Sejarah KMB menunjukkan bahwa koperasi bukan sekadar badan usaha. Ia lahir sebagai alat perjuangan rakyat kecil untuk melepaskan diri dari sistem ekonomi yang menempatkan pekerja dalam posisi lemah. Semangat gotong royong menjadi jawaban atas praktik ekonomi yang menjerat.
Hari ini, ketika koperasi sering dipandang hanya sebagai lembaga administratif, kisah KMB mengingatkan bahwa akar koperasi Indonesia sesungguhnya tumbuh dari keberanian rakyat mempertahankan martabat kerja dan hak atas hasil produksinya.
“Koperasi bukan lahir dari kemurahan hati kaum pemodal, melainkan dari tekad para pekerja untuk berdiri di atas kaki sendiri.”
Sumber:
Basrah Enie. Enie, Sosok Pengusaha Batik Tasik 1906–1966: Menguak Sejarah Pembatikan di Tasikmalaya (1995).
Pemerhati sejarah lokal priangan

No comments yet