Catatan Seorang Anak Sukapura
Oleh: Sultan Delpohon
“Apabila sejarah berhenti ditulis oleh rakyat, maka ia akan ditulis oleh para penguasa. Dan apabila penguasa mulai lupa kepada rakyatnya, maka batu, pohon, dan tanah akan menjadi saksi yang lebih jujur daripada pidato-pidato mereka.”

Tidak ada tanah yang menangis.
Yang menangis adalah manusia yang kehilangan ingatan.
Begitulah Dadaha hari ini.
Di antara debu, sampah, sengketa ruang, dan langkah kaki manusia yang saling mendesak mencari sesuap nasi, terdengar suara yang tidak lagi berasal dari pengeras suara pemerintah.
Suara itu datang dari tanah.
Dari rumput yang diinjak.
Dari pepohonan tua yang masih mengingat nama-nama para karuhun.
Dari angin yang pernah membawa tawa anak-anak Sukapura.
Suara itu berbisik,
“Kami masih di sini. Kalian saja yang mulai lupa.”
Aku hanya sedang menagih janji.
Bukan kepada seorang manusia semata.
Melainkan kepada kekuasaan yang pernah berbicara di hadapan rakyat.
Pada penghujung tahun 2024, masyarakat mendengar kabar tentang sebuah pertemuan di Lembur Pakuan. Di sana tersimpan harapan bahwa Kawasan Dadaha akan dihidupkan kembali sebagai ruang olahraga, ruang budaya, sekaligus ruang perjumpaan masyarakat.
Janji itu lahir dengan bahasa yang indah.
Namun sejarah tidak pernah dibangun oleh kata-kata.
Sejarah dibangun oleh pekerjaan.
Dan rakyat hanya mengenal satu ukuran:
Apakah hidup mereka menjadi lebih baik atau tidak?
Dadaha Tidak Pernah Dilahirkan untuk Menjadi Barang Dagangan Kekuasaan
Ada pemimpin yang membangun gedung.
Ada pemimpin yang membangun nama.
Tetapi hanya sedikit yang mampu membangun peradaban.
R.A.A. Wiratanuningrat memahami sesuatu yang hari ini mulai dilupakan.
Bahwa sebuah kota bukan hanya dihuni rumah-rumah.
Sebuah kota hidup karena memiliki ruang tempat rakyat dapat saling melihat wajah satu sama lain.
Dadaha lahir bukan sekadar arena pacuan kuda.
Ia adalah halaman rumah bersama.
Tempat rakyat bercakap tanpa undangan.
Tempat anak-anak belajar keberanian.
Tempat para jawara menguji ketangkasan.
Tempat para seniman menghidupkan suara kecapi.
Tempat pemimpin berjalan tanpa pagar besi.
Di sana tidak ada jarak antara pemerintah dan rakyat.
Yang ada hanyalah manusia.
Hari ini…
Ruang itu terasa semakin asing.
Kota yang Kehilangan Ingatan Akan Menjual Sejarahnya Sedikit demi Sedikit
Bangunan boleh berdiri.
Aspal boleh diperlebar.
Lampu boleh dipasang.
Tetapi apabila ingatan rakyat ikut dihancurkan, sesungguhnya sebuah kota sedang menggali kuburnya sendiri.
Sejarah tidak mati karena perang.
Sejarah mati ketika masyarakat berhenti mengingat.
Sedikit demi sedikit.
Pelan-pelan.
Tanpa terasa.
Hari ini orang mengenal Dadaha hanya sebagai lokasi.
Padahal dahulu ia adalah peristiwa.
Ia adalah kehidupan.
Ia adalah kebudayaan.
Ia adalah sekolah tanpa dinding.
Otto Iskandar di Nata Pernah Datang Bukan Membawa Janji
Sejarah mencatat langkah-langkah yang hari ini nyaris tenggelam.
Otto Iskandar di Nata datang ke Tasikmalaya bukan sekadar membawa sepak bola.
Beliau membawa harga diri rakyat Sunda.
Koran Sipatahoenan tahun 1938 mencatat bagaimana Persib bertanding di Lapangan Dadaha.
Pertandingan itu bukan sekadar mencari pemenang.
Ia mempertemukan kampung dengan kampung.
Rakyat dengan rakyat.
Harapan dengan harapan.
Dadaha pernah menjadi simpul kebudayaan Jawa Barat.
Hari ini…
Rakyat bertanya,
masihkah kota ini mengingat warisan itu?
Yang Harus Dibereskan Bukan Rakyatnya, Tetapi Cara Mengurus Kotanya
Ketika ruang kota menjadi semrawut, terlalu mudah menunjuk orang kecil sebagai penyebab.
Pedagang.
Parkir.
Gerobak.
Lapak.
Mereka sering menjadi wajah yang pertama kali disalahkan.
Padahal mereka bukan penyebab pertama.
Mereka adalah akibat.
Akibat dari kota yang gagal menyediakan ruang hidup yang tertata.
Pedagang kecil tidak sedang melawan kota.
Mereka sedang melawan lapar.
Dan lapar tidak pernah mengenal jam kerja pemerintah.
Karena itu, penyelesaian persoalan ruang tidak cukup dengan penggusuran, larangan, atau saling menyalahkan.
Yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang mampu menata tanpa memutus kehidupan masyarakat.
Politik Tidak Hidup di Dalam Kamera
Hari ini kita hidup pada zaman ketika kamera sering lebih sibuk daripada telinga.
Segala sesuatu harus tampak.
Harus direkam.
Harus viral.
Harus menjadi citra.
Padahal rakyat tidak makan dari pencitraan.
Jalan berlubang tidak menutup dirinya sendiri karena sebuah unggahan.
Sampah tidak menghilang karena sebuah pidato.
Dadaha tidak akan kembali menjadi ruang budaya hanya karena slogan.
Pemimpin akan dikenang bukan karena seberapa sering ia terlihat.
Melainkan karena seberapa besar rakyat merasakan kehadirannya.
Di tengah masyarakat berkembang beragam kritik mengenai proses politik dan janji-janji yang pernah disampaikan selama masa kampanye. Kritik-kritik itu merupakan bagian dari kehidupan demokrasi. Namun setiap dugaan pelanggaran tetap harus dibuktikan melalui mekanisme hukum yang berlaku.
Yang lebih penting setelah pemilu adalah pertanggungjawaban atas amanah yang telah diberikan rakyat.
Maka Lahirlah Sebuah Mural
Ketika pidato kehilangan daya gugah…
Ketika baliho mulai lapuk…
Ketika janji-janji berubah menjadi gema kosong…
Seorang seniman hanya memiliki satu senjata.
Kata-kata.
Lalu lahirlah mural itu.
“KARUHUN CEURIK. ANYENA DADAHA LAIN JADI SARANA OLAHRAGA JEUNG BUDAYA, TAPI TEMPAT DADA JEUNG PAHA. DITAMBAHAN PKL JEUNG SAMPAH NUMPUK.”
Sebagian orang melihatnya sebagai satire.
Sebagian lagi menganggapnya terlalu tajam.
Tetapi seni memang tidak lahir untuk membuat penguasa merasa nyaman.
Seni lahir agar masyarakat tetap memiliki keberanian untuk bertanya.
Tasikmalaya Milik Sarerea
Kota bukan milik pejabat.
Kota bukan milik investor.
Kota bukan milik partai.
Kota bukan milik keluarga tertentu.
Kota adalah milik mereka yang setiap pagi membuka warung.
Milik tukang sapu yang membersihkan jalan sebelum matahari terbit.
Milik guru yang mengajar tanpa banyak dipuji.
Milik atlet yang berkeringat di lapangan.
Milik seniman yang menjaga nyala kebudayaan.
Milik para karuhun yang telah menitipkan tanah ini kepada generasi setelahnya.
Karena itu, setiap pemimpin hanyalah tamu dalam sejarah.
Sedangkan rakyat adalah pemilik rumahnya.
Jabatan akan selesai.
Masa kekuasaan akan berganti.
Baliho akan diturunkan.
Pidato akan dilupakan.
Tetapi tanah akan tetap tinggal.
Dan tanah selalu mempunyai ingatan yang lebih panjang daripada manusia.
Maka apabila suatu hari nanti anak cucu bertanya,
“Mengapa Dadaha berubah?”
Semoga kita masih mempunyai keberanian untuk menjawabnya dengan jujur.
Karena sejarah tidak pernah meminta kita menjadi pendukung siapa pun.
Sejarah hanya meminta satu hal:
Jangan pernah mengkhianati rakyat yang menitipkan masa depannya kepada para pemimpin.
Tasikmalaya bukan milik segelintir orang.
Tasikmalaya milik sarerea.
Dan selama masih ada orang yang menulis, berbicara, bernyanyi, dan melukis untuk rakyat, suara karuhun tidak akan pernah benar-benar padam.
Pemerhati sejarah lokal priangan

No comments yet