Viral Murahan, Akal Sehat Kehabisan Kuota

Ilustrasi Penjara

Di era sekarang, jadi viral itu gampang. Susahnya cuma satu: punya otak dan tanggung jawab.Ada konten yang konsepnya bukan kreatif, tapi nekat. Bukan inovatif, tapi nggak mikir. Pacaran dijadikan konten instan, waktu dibeli, martabat dinego, lalu dibungkus caption sok santai. Semua demi satu tujuan mulia: views.

Lucunya, pelaku selalu berlindung di kalimat keramat:                                                                               “Cuma konten kok.”

Iya, cuma konten!
sama kayak maling yang bilang “cuma ambil dikit”,
atau nyontek bilang “cuma liat jawaban”.

Recehan jadi alat pembenaran, kamera jadi tameng, dan empati?
Ditinggal di draft.

Yang bikin miris bukan cuma idenya, tapi betapa PD nya kebodohan dipamerkan. Seolah makin absurd, makin bangga. Makin bermasalah, makin pingin dipertahankan. Salah? Enggak. Viral dulu aja.

Netizen ribut, sebagian kesel, sebagian muak. Tapi pelaku biasanya tetap tenang, karena di kepala mereka berlaku satu hukum:
asal rame = sukses.

Padahal enggak semua yang viral itu layak.
Ada yang viral karena keren.
Ada yang viral karena penting.
Dan ada yang viral karena harusnya diperingatkan, bukan ditiru.

Kalau kontenmu butuh nurunin nilai, etika, dan rasa tanggung jawab biar ditonton orang, mungkin masalahnya bukan di algoritma.

Mungkin di kepalamu.

Baca Juga  OPPO Experience & Service Hadir di Tasikmalaya

Posted by Tria Cahyani

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *