SATU LAGI PELAJAR MENINGGAL, BERAPA NYAWA LAGI HARUS MELAYANG?

ChatGPT Image 25 Jul 2026 23.24.35

Sukamanah, Sukaratu – 24 Juli 2026

Suara sirene telah berhenti. Tangis keluarga perlahan mereda. Namun pertanyaan yang tertinggal justru semakin nyaring:

Sampai kapan truk bermuatan pasir terus melintas dan nyawa anak-anak menjadi taruhannya?

Seorang pelajar SMP meninggal dunia setelah diduga terlindas dan tergencet truk bermuatan pasir di wilayah Sukamanah, Kecamatan Sukaratu. Peristiwa ini bukan sekadar kecelakaan lalu lintas. Bagi masyarakat, tragedi ini menjadi pengingat bahwa persoalan keselamatan di jalur angkutan material masih terus menghantui.

Cuplikan layar 2026 07 25 211443 1

Ironisnya, setiap kali ada korban, yang muncul hanyalah ucapan belasungkawa. Setelah itu semuanya kembali seperti biasa. Truk tetap melintas, debu tetap beterbangan, jalan tetap dipenuhi kendaraan bertonase besar, sementara rasa aman masyarakat perlahan menghilang.

Yang hilang bukan hanya seorang anak.

Yang ikut hilang adalah masa depan sebuah keluarga.

Jika jalur yang sama terus dilalui kendaraan berat tanpa pengawasan yang memadai, maka kekhawatiran warga akan terus menjadi kenyataan. Keselamatan pengguna jalan, terutama anak-anak sekolah, semestinya menjadi prioritas, bukan sekadar dibahas setelah terjadi korban.

Masyarakat berhak mempertanyakan:

  • Apakah pengawasan terhadap kendaraan angkutan material sudah berjalan efektif?
  • Apakah aturan jam operasional benar-benar dipatuhi?
  • Siapa yang bertanggung jawab ketika korban terus berjatuhan?

Kritik bukan untuk memperkeruh keadaan, melainkan agar tragedi serupa tidak kembali terulang.

Hari ini satu keluarga berduka.

Besok, jangan sampai giliran keluarga yang lain.

Tasikmalaya Undercover menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga korban. Semoga peristiwa ini menjadi momentum bagi seluruh pihak untuk mengevaluasi keselamatan lalu lintas, penegakan aturan terhadap kendaraan angkutan material, dan perlindungan bagi masyarakat, khususnya para pelajar yang setiap hari menggunakan jalan umum.

Posted by Sultan Firman s

Pemerhati sejarah lokal priangan

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *