ROMPI ORANYE DI BAWAH JUBAH PUTIH Ketika Mimbar Menjadi Panggung, dan Rakyat Menjadi Penonton

ChatGPT Image 31 Jul 2026 15.55.12

Oleh: Sultan Firman Sativa (Sultan Delpohon)
Ada pepatah lama yang selalu hidup di republik ini: mulut dapat meminjam langit, tetapi tangan diam-diam menghitung bumi.
Di negeri yang gemar menyembah gelar dan pakaian, jubah sering kali lebih dipercaya daripada nurani. Mimbar lebih mudah mengumpulkan tepuk tangan daripada sawah yang mengumpulkan keringat petani. Kata-kata suci melayang di udara, sementara rakyat tetap berjalan di jalan berlubang, menanak nasi dengan harga yang terus meninggi, dan mengantre kehidupan yang tak kunjung adil.
Lalu, layar televisi menampilkan sebuah ironi yang seakan ditulis sendiri oleh sejarah.
Mohamad Haris alias Gus Haris, yang selama ini dikenal sebagai penceramah dan pengisi majelis taklim, termasuk di wilayah Karawang dan Cilamaya, kini tampil bukan dengan sorban dan mikrofon, melainkan dengan rompi oranye Komisi Pemberantasan Korupsi.
Begitulah sejarah bekerja.
Ia tak pernah bertanya apakah seseorang pandai berkhotbah. Sejarah hanya bertanya satu hal: apakah kata-kata itu sanggup bertahan ketika berhadapan dengan godaan kekuasaan dan kemewahan?
________________________________________
Korupsi memiliki watak seperti benalu.
Ia tidak tumbuh di tanah tandus. Ia justru hidup subur di batang pohon yang tampak paling rindang. Ia menyusup melalui pujian, tumbuh lewat kultus individu, lalu berkembang ketika masyarakat berhenti bertanya dan mulai memuja.
Di republik ini, terlalu banyak orang pandai mengajarkan kesederhanaan, tetapi lupa mempraktikkannya.
Terlalu banyak yang mengajak hidup bersahaja, tetapi garasinya berbicara lebih lantang daripada ceramahnya.
Ketika penyidik KPK menggeledah rumah di Moga pada 31 Juli 2026, yang menjadi perhatian publik bukan hanya uang tunai ratusan juta rupiah yang disita. Sorotan juga tertuju pada kendaraan-kendaraan mewah yang disegel, termasuk dua Harley-Davidson dan sebuah Honda CRF yang kini menjadi bagian dari proses penyidikan.
Rakyat tentu berhak bertanya.
Sejak kapan jalan menuju kebajikan harus diaspal dengan suara knalpot motor gede?
Pertanyaan itu bukan lahir dari kebencian terhadap kemewahan.
Pertanyaan itu lahir karena jurang antara mimbar dan kenyataan terlalu lebar untuk ditutup dengan doa-doa yang indah.
________________________________________
Negeri ini sedang mengalami wabah yang lebih berbahaya daripada korupsi uang.
Ia adalah korupsi keteladanan.
Ketika orang yang dipercaya menyampaikan nilai amanah terseret proses hukum, yang terluka bukan hanya nama pribadi.
Yang retak adalah kepercayaan rakyat.
Yang robek adalah keyakinan jamaah.
Yang tercabik adalah harapan bahwa masih ada tokoh yang mampu hidup setinggi kata-katanya.
Korupsi uang masih dapat dihitung dengan angka.
Tetapi korupsi kepercayaan tidak memiliki satuan.
Ia menjalar dari ruang pengajian ke warung kopi, dari masjid ke pasar, dari kampung ke kota. Ia membuat masyarakat mulai bertanya dengan nada getir:
“Masih adakah orang yang berkhotbah bukan untuk membangun panggungnya sendiri?”
________________________________________
Namun republik hukum tidak dibangun di atas amarah.
Perkara ini sedang diproses oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Setiap orang tetap berhak atas asas praduga tak bersalah hingga pengadilan menjatuhkan putusan yang berkekuatan hukum tetap. Itulah fondasi negara hukum yang harus dijaga.
Tetapi proses hukum tidak boleh membungkam kritik sosial.
Sebab kritik bukan musuh keadilan.
Kritik adalah cermin yang memaksa kekuasaan dan para tokoh masyarakat melihat wajahnya sendiri tanpa bedak pencitraan.
________________________________________
Barangkali inilah pelajaran yang paling mahal.
Mimbar tidak otomatis melahirkan keteladanan.
Sorban bukan sertifikat kejujuran.
Gelar “gus”, “ustaz”, “kyai”, ataupun sebutan-sebutan terhormat lainnya bukan benteng yang membuat seseorang kebal dari godaan dunia.
Rakyat terlalu lama diajarkan untuk melihat pakaian.
Padahal sejarah selalu menilai perbuatan.
Karena itu, jangan lagi membangun republik ini di atas kultus figur.
Bangunlah di atas keberanian mengawasi.
Jangan mengukur seseorang dari lantangnya ceramah.
Ukurlah dari jejak hidupnya.
Sebab sejarah tidak pernah mengabadikan siapa yang paling pandai berbicara.
Sejarah hanya mengenang siapa yang sanggup menjaga amanah ketika tak ada satu pun kamera yang menyorotnya.
Dan bila suatu hari rompi oranye menggantikan jubah putih, sesungguhnya yang sedang diadili bukan hanya seorang manusia.
Melainkan juga budaya yang terlalu lama memuja simbol, tetapi malas memeriksa integritas.

Posted by Sultan Firman s

Pemerhati sejarah lokal priangan

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *