Tasikmalaya Undercover
Ditulis oleh Sultan Delpohon

Di tanah Kendeng, sejarah tidak hanya ditulis dengan tinta.
Ia ditanam bersama benih di ladang, dipelihara dalam ingatan masyarakat, dan diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Di sanalah nama Samin Surosentiko dan masyarakat Sedulur Sikep memperoleh tempat penting dalam sejarah perlawanan masyarakat pedesaan Jawa terhadap kekuasaan kolonial. Perlawanan itu tidak selalu hadir dalam bentuk senjata. Ia dapat berbentuk sikap hidup, keteguhan moral, penolakan terhadap ketidakadilan, serta keberanian mempertahankan tanah dan martabat manusia.
Lebih dari satu abad kemudian, dari wilayah Pati kembali terdengar suara perlawanan masyarakat.
Nama Supriyono alias Botok bersama Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) muncul dalam berbagai aksi warga, termasuk demonstrasi di Jakarta pada Agustus 2026.
Apakah ini merupakan kelanjutan langsung gerakan Samin?
Jawabannya tidak sesederhana itu.
Namun terdapat sebuah benang merah sosial yang menarik untuk dibaca: keyakinan bahwa rakyat biasa mempunyai hak untuk bersuara ketika kebijakan kekuasaan dianggap tidak berpihak kepada kepentingan masyarakat.
SAMIN: KETIKA PERLAWANAN MENJADI JALAN HIDUP
Gerakan yang dipelopori Samin Surosentiko pada penghujung abad ke-19 lahir dari lingkungan masyarakat pedesaan Jawa.
Samin Surosentiko, yang juga dikenal sebagai Raden Kohar, lahir di Blora pada 1859. Ajarannya berkembang di tengah masyarakat yang berhadapan dengan struktur kekuasaan kolonial dan berbagai kewajiban yang dibebankan kepada rakyat.
Gerakan tersebut kemudian berkembang dari wilayah Blora menuju berbagai daerah di Jawa Tengah, termasuk kawasan sekitar Pegunungan Kendeng.
Masyarakat pengikut ajaran tersebut lebih dikenal sebagai Sedulur Sikep.
Bagi mereka, kehidupan bukan sekadar persoalan bagaimana memperoleh makan dan mempertahankan tanah. Kehidupan juga menyangkut kejujuran, tanggung jawab, kesetaraan, dan hubungan manusia dengan alam.
Di sinilah pentingnya memahami gerakan Samin bukan semata-mata sebagai catatan mengenai penolakan pajak kolonial.
Samin adalah sebuah pandangan hidup.
Sebuah cara untuk mengatakan bahwa manusia kecil pun mempunyai martabat.
KENDENG DAN INGATAN YANG TIDAK MATI
Pegunungan Kendeng bukan sekadar bentang geografis.
Ia merupakan ruang hidup bagi masyarakat yang menggantungkan kehidupannya pada tanah dan pertanian.
Karena itu, ketika berbicara mengenai Samin dan Sedulur Sikep, kita tidak dapat memisahkannya dari persoalan hubungan manusia dengan alam.
Petani hidup dari tanah.
Tanah memberikan pangan.
Air menghidupkan sawah.
Hutan menjaga keseimbangan kehidupan.
Maka mempertahankan ruang hidup bagi masyarakat bukan sekadar persoalan ekonomi. Ia juga menyangkut keberlangsungan kebudayaan dan martabat manusia.
Dalam perspektif inilah Sultan Delpohon dari Tasikmalaya Undercover melihat bahwa warisan Samin tidak cukup dibaca sebagai spiritualitas.
Ia juga merupakan moralitas dan pandangan hidup.
Gerakan Samin mengingatkan bahwa perlawanan dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana: keberanian untuk berkata tidak terhadap sesuatu yang dianggap tidak adil.
DARI DESA MENUJU PANGGUNG NASIONAL
Memasuki zaman modern, bentuk perlawanan masyarakat tentu mengalami perubahan.
Jika pada zaman kolonial perlawanan masyarakat Samin berlangsung melalui penolakan terhadap sejumlah kebijakan pemerintah kolonial, maka masyarakat masa kini memiliki berbagai ruang politik yang berbeda: demonstrasi, audiensi, organisasi masyarakat, media sosial, dan dialog dengan lembaga negara.
Dalam konteks Pati, nama Supriyono alias Botok dan AMPB menjadi salah satu fenomena yang menarik perhatian.
Gerakan tersebut pada awalnya berkembang dari berbagai persoalan lokal masyarakat Pati. Dalam perkembangannya, tuntutan yang dibawa kemudian bersentuhan dengan persoalan nasional, termasuk agenda pemberantasan korupsi dan dorongan terhadap pembentukan regulasi mengenai perampasan aset hasil tindak pidana korupsi.
Pada Agustus 2026, massa AMPB melakukan aksi di depan Gedung DPR RI di Jakarta.
Di tengah panasnya jalanan ibu kota, persoalan Pati dibawa ke hadapan pusat kekuasaan nasional.
Di sinilah sebuah gerakan lokal memasuki panggung yang lebih luas.
RAKYAT DATANG KE SENAYAN
Ada satu pemandangan yang selalu menarik dalam sejarah politik Indonesia.
Ketika saluran formal dianggap belum memberikan jawaban yang memuaskan, rakyat datang sendiri ke pusat kekuasaan.
Mereka membawa spanduk.
Mereka membawa tuntutan.
Mereka membawa cerita dari kampung halaman.
Dan yang paling penting: mereka membawa keyakinan bahwa suara rakyat tidak boleh berhenti di pagar kantor pemerintahan.
Aksi AMPB di Jakarta pada Agustus 2026 menjadi salah satu gambaran mengenai dinamika tersebut.
Tuntutan mengenai RUU Perampasan Aset dan pemberantasan korupsi menunjukkan bahwa sebagian aspirasi yang dibawa tidak lagi semata-mata berbicara tentang persoalan Pati.
Ia telah memasuki perdebatan mengenai bagaimana negara membangun instrumen hukum untuk melawan korupsi.
Dalam perkembangan aksi tersebut, perwakilan massa juga disebut memperoleh kesempatan untuk berdialog dengan pihak parlemen.
Ruang dialog itu penting.
Sebab demokrasi tidak hanya membutuhkan rakyat yang berani berbicara, tetapi juga lembaga negara yang bersedia mendengar.
BUKAN MENYAMAKAN SAMIN DENGAN AMPB
Namun sejarah harus ditulis dengan kepala dingin.
AMPB bukan gerakan Samin.
Supriyono alias Botok bukan Samin Surosentiko.
Keduanya lahir dalam konteks sejarah, struktur kekuasaan, dan persoalan sosial yang berbeda.
Samin Surosentiko hidup di bawah kolonialisme Hindia Belanda pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.
AMPB bergerak dalam negara Indonesia modern dengan mekanisme demokrasi, parlemen, media massa, organisasi masyarakat sipil, dan perangkat hukum yang berbeda.
Karena itu, yang dapat dibandingkan bukanlah identitas organisasi atau tokohnya.
Yang dapat dibaca adalah benang merah semangat masyarakat dalam mempertahankan hak dan menyampaikan keberatan terhadap kekuasaan.
Perbandingan semacam ini harus ditempatkan sebagai pembacaan sejarah dan sosial, bukan sebagai klaim bahwa AMPB merupakan kelanjutan organisatoris dari gerakan Samin.
DARI SIKAP HIDUP MENUJU SIKAP POLITIK
Barangkali di sinilah warisan terpenting Samin dapat direnungkan.
Perlawanan tidak selalu dimulai dari gedung parlemen.
Kadang ia lahir dari sawah.
Dari desa.
Dari percakapan antarwarga.
Dari keresahan seorang petani.
Dari pertanyaan sederhana:
Mengapa rakyat harus selalu menjadi pihak yang menerima keputusan, tetapi jarang menjadi pihak yang menentukan?
Samin mengajarkan pentingnya keteguhan sikap hidup.
Gerakan masyarakat modern memperlihatkan bentuk lain dari keberanian warga negara: berkumpul, menyampaikan pendapat, mengajukan tuntutan, dan meminta pertanggungjawaban kebijakan kepada penguasa.
Bentuknya berbeda.
Zamannya berbeda.
Tetapi persoalan mengenai hubungan antara rakyat dan kekuasaan tetap menjadi salah satu tema besar dalam sejarah politik.
TANAH KENDENG, INGATAN RAKYAT
Sejarah sering kali dianggap telah selesai ketika nama seorang tokoh masuk buku pelajaran.
Padahal sejarah tidak pernah benar-benar selesai.
Ia hidup dalam ingatan masyarakat.
Ia muncul kembali ketika generasi berikutnya menghadapi persoalan yang berbeda.
Bukan berarti generasi baru harus mengulangi cara perjuangan generasi sebelumnya.
Justru sebaliknya.
Mereka harus menemukan bentuk perjuangannya sendiri sesuai zamannya.
Samin memilih jalan yang lahir dari masyarakat pedesaan Jawa pada masa kolonial.
Masyarakat Pati hari ini hidup dalam zaman demokrasi dan negara hukum.
Maka perjuangannya harus diuji melalui ruang hukum, politik, kebebasan berpendapat, dialog, dan kekuatan masyarakat sipil.
PENUTUP: RAKYAT TIDAK BOLEH MENJADI CATATAN KAKI
Dari Blora menuju Kendeng.
Dari sawah menuju jalanan.
Dari desa menuju Jakarta.
Sejarah menunjukkan bahwa suara rakyat selalu menemukan jalannya sendiri.
Namun suara itu akan mempunyai arti lebih besar apabila perjuangan dilakukan secara damai, berdasarkan fakta, menghormati hukum, dan menjaga agar kritik tetap diarahkan kepada persoalan—bukan kepada kebencian terhadap sesama.
Samin meninggalkan warisan tentang keteguhan moral.
Masyarakat Pati hari ini sedang menulis babnya sendiri.
Apakah bab itu kelak menjadi bagian penting dari sejarah demokrasi Indonesia, atau hanya menjadi catatan kaki?
Jawabannya bukan berada di tangan seorang tokoh.
Bukan pula hanya berada di tangan pemerintah.
Sejarah akhirnya ditentukan oleh bagaimana rakyat, negara, dan kekuasaan memilih untuk menghadapi zaman.
Dan dari tanah Kendeng, satu pelajaran lama tetap relevan:
rakyat yang mengetahui haknya tidak mudah dibuat diam.
Pemerhati sejarah lokal priangan

No comments yet