BAPAK REPUBLIK YANG DILUPAKAN TAN MALAKA: PIKIRAN YANG TAK PERNAH MATI

ChatGPT Image 17 Agu 2026 12.52.18

Oleh: Sultan Firman Sativa, S.Pd. / Sultan Delpohon

“Sejarah bukan milik mereka yang hanya berdiri di podium. Sejarah adalah milik mereka yang berani memikirkan kemerdekaan ketika kemerdekaan itu sendiri masih dianggap mimpi.”

 

ChatGPT Image 16 Agu 2026 20.10.31

Ada nama-nama yang setiap tahun disebut ketika upacara bendera tiba. Ada nama-nama yang dicetak di buku pelajaran, dipasang pada nama jalan, kemudian selesai—seolah perjuangan cukup dikenang dengan sebuah upacara.

Tetapi ada pula nama yang jauh lebih mengganggu.

Nama yang memaksa kita berpikir.

Nama yang tidak hanya bertanya: “Sudah merdekakah Indonesia?”

Melainkan bertanya lebih jauh:

“Untuk siapa kemerdekaan itu dibuat?”

Nama itu adalah Tan Malaka.

Seorang guru. Seorang pemikir. Seorang revolusioner. Seorang penulis. Seorang manusia yang sepanjang hidupnya berjalan di antara penjara, pengasingan, pelarian dan perdebatan politik.

Dan yang paling penting: seorang manusia yang berani membayangkan Republik Indonesia ketika republik itu belum berdiri.

REPUBLIK YANG LAHIR DARI SEBUAH PIKIRAN

Pada 1925, jauh sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945, Tan Malaka menulis Naar de Republiek Indonesië atau Menuju Republik Indonesia.

Tulisan itu bukan sekadar khayalan seorang pelarian politik.

Di dalamnya terdapat gagasan mengenai negara Indonesia merdeka beserta persoalan politik, ekonomi, pendidikan, sosial dan perjuangan rakyat. Sejumlah kajian sejarah menempatkan karya tersebut sebagai salah satu konsepsi awal yang secara jelas menggunakan gagasan Republik Indonesia sebagai tujuan perjuangan.

Maka pertanyaan sejarahnya menjadi penting:

Mengapa seorang yang telah memikirkan republik sedemikian dini justru kemudian begitu lama berada di pinggir ingatan resmi bangsa?

Barangkali karena Tan Malaka bukan manusia yang mudah dimasukkan ke dalam kotak.

Ia bukan sekadar pahlawan yang nyaman dipajang.

Ia adalah pahlawan yang membawa pertanyaan.

GURU YANG MELIHAT RAKYAT

Tan Malaka tidak lahir sebagai tokoh yang langsung berdiri di tengah panggung sejarah.

Ia lahir di Suliki, Sumatera Barat, pada 2 Juni 1897. Pendidikan keguruannya membawanya ke Belanda. Di sana cakrawala pikirannya berkembang dan ia bersentuhan dengan berbagai pemikiran politik serta sosial yang kemudian memengaruhi jalan hidupnya.

Baca Juga  Driver Maxim Tasikmalaya Bergerak, Soroti Potongan dan Kebijakan Aplikator yang Dinilai Membebani Mitra

Ketika kembali ke Hindia Belanda, ia bekerja sebagai guru di Deli.

Di sana ia berhadapan dengan kenyataan kolonial yang jauh berbeda dari teori di buku.

Ia melihat bagaimana buruh perkebunan hidup dalam struktur ekonomi kolonial.

Dari sanalah pendidikan baginya bukan sekadar pekerjaan.

Sekolah adalah senjata untuk membangunkan kesadaran.

Anak-anak rakyat harus diberi ilmu.

Rakyat harus diajarkan membaca.

Dan yang lebih penting:

rakyat harus diajarkan berpikir.

Inilah salah satu warisan Tan Malaka yang sering terlupakan. Revolusi baginya bukan hanya persoalan mengganti bendera. Revolusi juga merupakan perubahan cara manusia memahami dunia.

MELAWAN KOLONIALISME, MELAWAN KEBODOHAN

Tan Malaka kemudian aktif dalam gerakan politik kiri dan perjuangan antikolonial. Aktivitas politiknya membuat pemerintah kolonial memburunya.

Pada 1922 ia ditangkap pemerintah Hindia Belanda dan kemudian meninggalkan Indonesia. Setelah itu dimulailah perjalanan panjang seorang revolusioner yang hidup berpindah-pindah dan menggunakan berbagai nama samaran. Ia bergerak melalui berbagai negeri dan terlibat dalam jaringan pergerakan internasional.

Namun yang menarik bukan sekadar kisah pelariannya.

Yang menarik adalah kenyataan bahwa dalam keadaan diburu, ia tetap menulis.

Ketika tubuhnya dikejar polisi kolonial, pikirannya berjalan lebih cepat daripada langkah pengejarnya.

Ketika pintu-pintu penjara terbuka dan tertutup, pena tetap bekerja.

Dari sanalah lahir karya-karya yang kemudian menjadi bagian penting dari sejarah pemikiran Indonesia.

MADILOG: REVOLUSI DALAM KEPALA

Tan Malaka tidak hanya ingin Indonesia merdeka dari penjajahan asing.

Ia juga ingin manusia Indonesia merdeka dari cara berpikir yang membuatnya mudah ditundukkan.

Dalam Madilog—Materialisme, Dialektika, Logika—ia mengajak pembacanya membangun cara berpikir yang rasional dan kritis.

Bagi Tan, kemerdekaan tanpa kemampuan berpikir dapat menjadi kemerdekaan yang rapuh.

Sebab bangsa yang telah mengganti penjajah tetapi masih takut berpikir, masih menerima segala sesuatu tanpa kritik, masih tunduk kepada feodalisme dan takhayul, sesungguhnya belum selesai melakukan revolusi.

Penjajahan dapat meninggalkan tentara. Tetapi ia juga dapat meninggalkan cara berpikir.

Maka revolusi tidak cukup dilakukan di jalan.

Revolusi juga harus berlangsung di dalam kepala.

MERDEKA 100 PERSEN

Setelah Proklamasi 1945, persoalan bagi Tan Malaka belum selesai.

Baca Juga  SPPG Diangkat PPPK, Guru Honorer Terabaikan: Negara Kekurangan Uang atau Sengaja Salah Prioritas?

Bendera Merah Putih telah berkibar.

Republik telah diproklamasikan.

Tetapi Belanda ingin kembali.

Dalam situasi itulah Tan Malaka tampil dengan gagasan “Merdeka 100%.”

Ia menolak kemerdekaan yang menurut pandangannya terlalu banyak bergantung pada kompromi dengan kekuatan kolonial. Ia kemudian menghimpun kekuatan politik melalui Persatuan Perjuangan.

Di sinilah sejarah menjadi menarik.

Tan Malaka bukan satu-satunya tokoh yang menentukan arah Republik. Ia juga bukan manusia tanpa kesalahan. Ia berdebat dengan banyak tokoh pergerakan, termasuk dengan kelompok yang sebelumnya memiliki kedekatan politik dengannya.

Tetapi justru karena itulah Tan Malaka penting dipelajari.

Sejarah bukan kitab orang-orang yang selalu benar. Sejarah adalah ruang untuk memahami perdebatan manusia dalam menentukan masa depan bangsanya.

REPUBLIK YANG MEMAKAN ANAKNYA SENDIRI

Ada ironi yang pahit dalam kisah Tan Malaka.

Ia berjuang melawan kolonialisme untuk mendirikan Republik.

Namun pada 21 Februari 1949, ia tewas di Selopanggung, Kediri, setelah ditangkap pasukan dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya. Sumber sejarah menyebut ia dieksekusi tanpa proses peradilan.

Demikianlah tragedi itu.

Seorang manusia yang membayangkan Republik Indonesia jauh sebelum republik itu lahir, akhirnya mati di tengah revolusi Republik yang sedang mempertahankan kemerdekaannya.

Bukan penjajah Belanda yang mengakhiri hidupnya.

Ia tewas di tangan kekuatan republik dalam sebuah konflik politik dan militer yang rumit.

Inilah salah satu halaman sejarah yang tidak boleh kita tutupi dengan kain upacara.

Justru harus dibaca.

Harus diteliti.

Harus diperdebatkan.

Karena bangsa yang dewasa bukan bangsa yang menyembunyikan halaman gelap sejarahnya.

Bangsa yang dewasa adalah bangsa yang berani membuka halaman tersebut dan berkata:

“Mari kita belajar agar tragedi itu tidak terulang.”

DARI PENJARA KE PENJARA, DARI GENERASI KE GENERASI

Tan Malaka meninggalkan sejumlah karya penting, antara lain Naar de Republiek Indonesië, Massa Actie, Madilog, Dari Penjara ke Penjara, dan Gerpolek.

Karya-karya tersebut memperlihatkan bahwa perjuangannya tidak berhenti pada aksi politik.

Ia menulis.

Ia mendidik.

Ia berdebat.

Ia merumuskan.

Ia membangun gagasan.

Dan gagasan mempunyai umur yang jauh lebih panjang daripada manusia yang melahirkannya.

Tan Malaka kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 28 Maret 1963 melalui Keputusan Presiden Nomor 53 Tahun 1963.

Tetapi gelar pahlawan saja tidak cukup.

Baca Juga  Fiona Callaghan, M.Si Menerima Penyematan Nama Leluhur "Raden Siti Dewi Munigar" dari Masyarakat Adat Kabuyutan Besek

Sebab menjadikan Tan Malaka sekadar foto di dinding berarti kembali melupakan Tan Malaka.

Menghafal tanggal lahirnya tidak cukup.

Menghafal tanggal kematiannya tidak cukup.

Menyebut namanya dalam pidato juga tidak cukup.

Yang harus diwarisi adalah keberanian berpikirnya.

TAN MALAKA DAN INDONESIA HARI INI

Tan Malaka hidup pada zaman ketika rakyat berhadapan langsung dengan kolonialisme.

Kita hidup pada zaman yang berbeda.

Tetapi pertanyaannya masih relevan:

Apakah rakyat telah benar-benar berdaulat?

Apakah pendidikan telah menjadi alat pembebasan?

Apakah kekayaan negeri benar-benar dipergunakan untuk kesejahteraan rakyat?

Apakah demokrasi hanya berhenti pada pencoblosan?

Apakah kemerdekaan ekonomi telah menyertai kemerdekaan politik?

Dan apakah orang kecil memiliki kesempatan yang sama untuk menentukan masa depan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak harus dijawab dengan mengulang seluruh pemikiran Tan Malaka.

Justru sebaliknya.

Warisan intelektualnya mengajarkan kita untuk berani berpikir sendiri.

BUKAN UNTUK DISUCIKAN, TETAPI UNTUK DIPIKIRKAN

Tan Malaka bukan patung.

Ia manusia.

Ia memiliki gagasan, pertentangan, kekuatan dan kelemahan.

Karena itu kita tidak perlu menyucikannya.

Tetapi jangan pula mengecilkannya hanya karena ia seorang tokoh kiri.

Sejarah Indonesia terlalu besar untuk disederhanakan menjadi hitam dan putih.

Tan Malaka adalah bagian dari sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia berdiri dalam tradisi pergerakan yang berusaha membebaskan manusia Indonesia dari kolonialisme dan ketidakadilan.

Membaca Tan Malaka berarti membaca salah satu arus besar pemikiran yang pernah mengalir dalam sungai revolusi Indonesia.

BAPAK REPUBLIK YANG TERUS BERTANYA

Tan Malaka mungkin telah lama tiada.

Tetapi pertanyaannya belum mati.

Republik yang ia bayangkan bukan hanya sebuah wilayah dengan garis batas.

Republik adalah gagasan tentang rakyat yang berdaulat.

Republik adalah cita-cita tentang pendidikan yang mencerdaskan.

Republik adalah ekonomi yang tidak meninggalkan rakyat kecil.

Republik adalah kemerdekaan yang tidak berhenti pada pergantian penguasa.

Dan Republik adalah keberanian untuk mengatakan bahwa rakyat bukan penonton dalam sejarahnya sendiri.

Karena itu, ketika nama Tan Malaka kembali disebut hari ini, jangan hanya bertanya:

“Siapa Tan Malaka?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Apa yang telah kita lakukan terhadap cita-cita republik yang dulu ia pikirkan?”

Sebab seorang tokoh bisa mati.

Sebuah buku bisa menguning.

Sebuah makam bisa terlupakan.

Tetapi pikiran yang benar-benar hidup akan selalu menemukan generasi baru untuk membacanya.

Tan Malaka telah pergi.

Republik tetap berdiri.

Tetapi pertanyaan tentang arti kemerdekaan masih menjadi pekerjaan kita bersama.

Sultan Firman Sativa, S.Pd. / Sultan Delpohon
Catatan untuk Republik: sejarah bukan untuk dipuja, melainkan untuk dibaca, dipikirkan, dan dipertanggungjawabkan kepada rakyat.

Posted by Sultan Firman s

Pemerhati sejarah lokal priangan

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *