Tasikmalaya Undercover – Di negeri yang katanya menjunjung tinggi kebudayaan, kadang yang paling bising justru bukan mereka yang memahami sejarah, melainkan mereka yang baru belajar mengeja tradisi.
Ketika seorang tokoh perempuan Tasikmalaya, Teh Euis Fiona Callaghan, tengah membahas Sukapura sebagai bagian dari warisan sejarah dan identitas masyarakat Tasikmalaya, perhatian publik justru tersedot pada respons seorang yang disebut sebagai Sekretaris DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Tasikmalaya. Respons berupa emotikon tertawa dan komentar bernada meremehkan dinilai banyak pihak tidak mencerminkan etika dalam menyikapi diskusi mengenai kebudayaan.
Dalam dunia politik, perbedaan pendapat adalah hal biasa. Namun, ketika yang menjadi bahan respons adalah kebudayaan yang hidup ratusan tahun sebelum partai-partai modern lahir, persoalannya bukan lagi sekadar debat politik. Yang dipertaruhkan adalah rasa hormat terhadap identitas kolektif masyarakat.
Sukapura bukan baliho yang dapat diganti setiap musim pemilu. Ia bukan pula panggung kampanye yang dapat dipenuhi slogan lima tahunan. Sukapura adalah jejak sejarah, ingatan leluhur, dan ruang kebudayaan yang diwariskan lintas generasi.
Satire lama mengatakan, “gajah yang baru masuk kandang sering merasa paling besar.” Namun sejarah selalu mengingatkan bahwa kebesaran bukan diukur dari ukuran tubuh, melainkan dari kerendahan hati menghormati tempat yang diinjak.
Masyarakat tentu berhak menilai sendiri apakah respons berupa tawa dalam pembahasan budaya merupakan bentuk kebebasan berekspresi, kritik, atau justru sikap yang dianggap tidak sensitif terhadap nilai-nilai budaya lokal.

Bagi masyarakat Sukapura, adat bukan sekadar pakaian tradisional yang dikenakan saat seremoni. Adat adalah tata krama. Adab adalah fondasi. Karena itu, kritik terhadap siapa pun yang dinilai kurang menghargai budaya tidak semestinya dipahami sebagai permusuhan politik, melainkan sebagai pengingat bahwa setiap orang—apa pun latar belakang politiknya—memiliki tanggung jawab moral untuk menghormati warisan budaya daerah.
Politik datang dan pergi mengikuti siklus pemilu. Jabatan berganti setiap periode. Tetapi nama Sukapura tetap berdiri jauh sebelum partai-partai lahir, dan kemungkinan besar akan tetap hidup jauh setelah para politisi meninggalkan panggungnya.
Maka, jika ingin menjadi bagian dari Tasikmalaya, mulailah bukan dengan tertawa pada budayanya, melainkan dengan belajar menghormatinya.
“Partai boleh baru, tetapi adab jangan sampai tertinggal.”
Pemerhati sejarah lokal priangan

No comments yet