TAN MALAKA DAN BARA PERLAWANAN DI PRIANGAN TIMUR Ketika Pikiran Menjadi Api Sejarah

Gemini Generated Image lvb8vlvb8vlvb8vl

Tasikmalaya Undercover
Oleh: Sultan Delpohon

Sejarah Tidak Pernah Lahir dari Ruang yang Sunyi

Ibrahim Datoek Tan Malaka vermoedelijk te Amsterdam KITLV 17800.tiff

Sejarah perlawanan rakyat tidak selalu dimulai dari gedung-gedung besar, podium kekuasaan, atau pidato para pejabat. Kadang ia tumbuh dari keresahan petani, percakapan di kampung, ruang pendidikan rakyat, dan keberanian orang-orang biasa yang mulai mempertanyakan ketidakadilan.

Di Priangan Timur—Tasikmalaya, Ciamis, dan Garut—dekade 1920-an menjadi salah satu periode penting dalam perkembangan gerakan politik rakyat. Bahan sejarah yang menjadi dasar tulisan ini menunjukkan adanya perkembangan Sarekat Rakyat dan mengaitkannya dengan pengaruh gagasan Tan Malaka serta pergolakan November 1926.

Namun sejarah harus dibaca dengan hati-hati.

Dalam arsip kolonial, gerakan yang menentang pemerintah Hindia Belanda lazim ditempatkan dalam bahasa kekuasaan sebagai “pemberontakan”. Dari sudut pandang sejarah pergerakan Indonesia, peristiwa yang sama dapat dibaca sebagai bagian dari perlawanan terhadap kolonialisme.

Di sinilah persoalan historiografi menjadi penting: siapa yang menulis sejarah, dari posisi kekuasaan yang mana, dan dengan bahasa siapa rakyat yang melawan itu kemudian dikenang?

Tasikmalaya dan Politik Perlawanan

Tan Malaka bukan tokoh yang sekadar hidup dalam buku-buku sejarah. Gagasannya mengenai pendidikan, organisasi massa, kemerdekaan, dan strategi perjuangan beredar melalui jaringan pergerakan yang luas.

Bahan yang digunakan dalam tulisan ini menempatkan Priangan Timur sebagai salah satu wilayah yang menerima pengaruh gerakan Sarekat Rakyat pada dekade 1920-an. Dalam narasi tersebut, keresahan masyarakat pedesaan terhadap tekanan kolonial bertemu dengan gagasan politik yang lebih radikal.

Pengaruh Tan Malaka terhadap dunia pendidikan rakyat juga bukan sekadar cerita lisan. Penelitian sejarah mencatat bahwa pada 13 Februari 1922 Tan Malaka ditangkap di Bandung ketika sedang memeriksa gedung sekolah rakyat.

Pendidikan, dengan demikian, bukan perkara kecil.

Bagi kolonialisme, rakyat yang hanya menjadi tenaga kerja mungkin masih dapat dikendalikan. Tetapi rakyat yang mulai membaca, berdiskusi, dan memahami keadaan sosialnya sendiri adalah persoalan yang berbeda.

Baca Juga  Perjuangan RUU Perampasan Aset Disebut Masih Berlanjut hingga 15 Desember 2026

Tan Malaka Kedaulatan Rakyat

November 1926: Ketika Keresahan Menjadi Gerakan

Pada November 1926, pergolakan yang melibatkan jaringan Sarekat Rakyat meletus di sejumlah wilayah Jawa.

Bahan sumber yang digunakan untuk artikel ini menyebut Priangan Timur sebagai salah satu wilayah yang ikut bergerak. Namun, penting ditegaskan bahwa tidak semua rincian mengenai metode jaringan bawah tanah, tokoh lokal, distribusi pamflet, atau hubungan langsung dengan Tan Malaka dapat dipastikan hanya berdasarkan sumber yang tersedia. Karena itu, bagian-bagian tersebut sebaiknya dipandang sebagai narasi yang memerlukan penelitian arsip lebih lanjut, bukan sebagai fakta final.

Yang lebih aman untuk ditegaskan adalah bahwa gagasan politik kiri dan gerakan massa memang berkembang di Jawa Barat pada periode tersebut. Kajian mengenai gerakan sosial-politik di Jawa Barat menunjukkan adanya pola pendidikan, agitasi, dan aksi dalam perkembangan gerakan radikal pada masa kolonial.

Dengan demikian, sejarah Tasikmalaya tidak dapat dilepaskan begitu saja dari arus besar pergulatan politik kolonial.

Dari Pikiran ke Kesadaran Rakyat

Yang menarik dari sejarah Tan Malaka bukan semata-mata soal organisasi atau konflik politik.

Ada satu persoalan yang jauh lebih mendasar: bagaimana sebuah gagasan berpindah dari kepala seorang pemikir ke kesadaran masyarakat?

Bahan yang menjadi dasar tulisan ini menggambarkan adanya penyebaran gagasan melalui jaringan masyarakat, pasar, ruang pertemuan, dan lingkungan pedesaan.

Tetapi secara historiografis, rincian seperti penggunaan jalur kereta api sebagai jaringan distribusi pamflet, pertemuan rahasia di lokasi tertentu, atau penggunaan kode-kode khusus harus dibuktikan melalui sumber primer sebelum dinyatakan sebagai fakta sejarah yang pasti.

Inilah batas penting antara narasi sejarah dan romantisasi sejarah.

Sejarah rakyat membutuhkan keberanian, tetapi juga membutuhkan disiplin terhadap sumber.

Bandung: Jejak yang Lebih Terang

Jika jejak fisik Tan Malaka di Priangan hendak ditelusuri, Bandung memiliki dokumentasi yang relatif lebih jelas.

Pada Februari 1922, Tan Malaka ditangkap di Bandung oleh pemerintah kolonial. Penangkapan itu terjadi ketika aktivitas politik dan pendidikannya semakin mendapat perhatian aparat kolonial.

Peristiwa tersebut memperlihatkan satu kenyataan: pemerintah kolonial melihat pendidikan dan aktivitas politik sebagai bagian dari persoalan keamanan.

Tetapi bagi gerakan rakyat, pendidikan justru menjadi alat untuk membangun kesadaran.

Baca Juga  Mas Ali, Mas Botok, Mas Teguh dan Perwakilan AMPB Masuki Gedung DPR

Pertarungan itu bukan hanya antara aparat dan aktivis.

Ia adalah pertarungan mengenai siapa yang berhak menentukan masa depan masyarakat.

Dari Priangan Menuju Gagasan “Merdeka 100 Persen”

Perjalanan pemikiran Tan Malaka tidak berhenti pada masa kolonial.

Setelah Proklamasi 1945, persoalan baru muncul: bagaimana mempertahankan kemerdekaan?

Pada Januari 1946, Persatuan Perjuangan tampil membawa tuntutan kemerdekaan 100 persen. Organisasi tersebut menentang pendekatan diplomasi pemerintah yang dianggap terlalu lunak terhadap Belanda. Penelitian akademik mengenai Persatuan Perjuangan menunjukkan bahwa organisasi ini lahir dari ketegangan politik pada awal Republik dan menjadi oposisi terhadap sebagian kebijakan pemerintah.

Dalam program minimumnya, Persatuan Perjuangan menempatkan pengakuan kemerdekaan 100 persen sebagai tuntutan utama.

Gagasan tersebut bukan sekadar slogan.

Ia merupakan gambaran mengenai sebuah keyakinan politik: bahwa kemerdekaan harus memiliki kedaulatan nyata, bukan hanya pengakuan di atas kertas.

Tasikmalaya dalam Arus Revolusi

Bahan sumber yang digunakan dalam artikel ini menghubungkan militansi laskar rakyat di Priangan Timur dengan arus gagasan “Merdeka 100 persen” pada masa revolusi 1945–1946.

Namun hubungan langsung antara seluruh laskar lokal Tasikmalaya dengan Tan Malaka perlu diteliti lebih lanjut melalui arsip organisasi, kesaksian pelaku, surat kabar sezaman, dan dokumen militer.

Yang dapat dikatakan dengan lebih kuat adalah bahwa gagasan Persatuan Perjuangan memang memiliki daya tarik bagi kelompok-kelompok yang menolak kompromi diplomatik dengan Belanda. Kajian sejarah mengenai Persatuan Perjuangan mencatat kuatnya pertentangan antara kelompok tersebut dengan garis diplomasi pemerintah Sjahrir.

Jadi, ketika membaca sejarah Tasikmalaya, kita tidak cukup hanya bertanya:

Siapa yang menang?

Kita juga harus bertanya:

Gagasan siapa yang hidup di tengah rakyat?

Sejarah dari Bawah

Sejarah sering kali ditulis dari atas.

Nama pejabat dicatat. Nama kabinet dicatat. Perjanjian dicatat. Pergantian kekuasaan dicatat.

Tetapi bagaimana dengan petani?

Bagaimana dengan buruh?

Bagaimana dengan guru?

Bagaimana dengan pemuda kampung yang membaca selebaran politik?

Bagaimana dengan rakyat yang harus hidup di bawah tekanan kolonial?

Di sanalah sejarah rakyat menemukan tempatnya.

Pengaruh Tan Malaka di Priangan tidak harus dibuktikan dengan cerita bahwa sang tokoh selalu hadir secara fisik di Tasikmalaya. Bahan yang tersedia sendiri menunjukkan bahwa hubungan tersebut lebih tepat dipahami sebagai hubungan ideologis dan jaringan pergerakan daripada hubungan personal langsung.

Baca Juga  DARI PATI, SUARA RAKYAT MENYEBERANG KE SENAYAN

Dengan kata lain, sebuah gagasan tidak membutuhkan kehadiran fisik pencetusnya untuk bergerak dari satu tempat ke tempat lain.

Membaca Kembali Tan Malaka, Membaca Kembali Tasikmalaya

Membaca sejarah Tan Malaka di Priangan Timur berarti membaca sejarah tentang gagasan yang bergerak.

Ia bergerak melalui pendidikan.

Melalui organisasi.

Melalui percakapan.

Melalui surat kabar.

Melalui keresahan sosial.

Dan melalui keberanian rakyat untuk mempertanyakan keadaan yang dianggap tidak adil.

Tetapi sejarah juga mengajarkan kehati-hatian.

Tidak semua cerita yang diwariskan dalam ingatan kolektif otomatis menjadi fakta. Tidak semua klaim tentang tokoh lokal telah mendapatkan pembuktian arsip. Karena itu, penelitian sejarah Tasikmalaya tentang Tan Malaka dan Sarekat Rakyat masih terbuka untuk diperdalam.

Di antara arsip kolonial dan ingatan rakyat, terdapat ruang yang harus diisi oleh penelitian.

Penutup: Bara Itu Bernama Kesadaran

Tan Malaka mungkin tidak meninggalkan jejak fisik sebanyak tokoh-tokoh lain di Priangan.

Namun sejarah gagasan tidak selalu meninggalkan bangunan.

Ia meninggalkan pertanyaan.

Ia meninggalkan keberanian berpikir.

Ia meninggalkan perdebatan tentang kemerdekaan.

Dan yang paling penting, ia meninggalkan satu warisan yang terus diperdebatkan: kemerdekaan sebagai sesuatu yang harus dirasakan rakyat, bukan hanya diumumkan oleh negara.

Tasikmalaya, sebagai bagian dari Priangan Timur, memiliki sejarah panjang dalam pergulatan sosial dan politik. Membaca sejarah itu bukan untuk menghidupkan kembali pertentangan masa lalu secara membabi buta, melainkan untuk memahami bagaimana rakyat pada suatu zaman menghadapi kekuasaan, ketidakadilan, dan cita-cita kemerdekaan.

Sebab sejarah bukan sekadar cerita tentang masa yang telah selesai.

Sejarah adalah ingatan yang terus bertanya kepada generasi berikutnya: untuk apa kemerdekaan diperjuangkan?


TASIKMALAYA UNDERCOVER
Sejarah — Rakyat — Ingatan — Perlawanan

Penulis: Sultan Delpohon

 

Referensi yang digunakan

  1. Bahan sumber yang Anda berikan mengenai Sarekat Rakyat, Tan Malaka, Priangan Timur, Tasikmalaya, dan Persatuan Perjuangan.
  2. Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah, kajian mengenai aktivitas Tan Malaka dan penangkapannya di Bandung pada 13 Februari 1922.
  3. Bihari: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Ilmu Sejarah, kajian mengenai gerakan radikal di Jawa Barat serta pola pendidikan, agitasi, dan aksi pada masa kolonial.
  4. Achmad Januar Amroni, “Organisasi Persatuan Perjuangan 1946,” Avatara: e-Journal Pendidikan Sejarah, mengenai latar belakang dan perkembangan Persatuan Perjuangan.
  5. Harry A. Poeze, Tan Malaka, Pergulatan Menuju Republik, Jilid I, sebagaimana dicantumkan dalam sumber akademik mengenai penangkapan dan pembuangan Tan Malaka.
  6. Dokumen/program Persatuan Perjuangan 1946, mengenai tuntutan kemerdekaan 100 persen dan program minimum organisas

Posted by Sultan Firman s

Pemerhati sejarah lokal priangan

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *