Ade dan Masqur, Dua Pemuda Tasikmalaya, Turut Berjuang di Depan DPR RI Dukung Pengesahan RUU Perampasan Aset

7a66002a 5c4f 45d4 b02d 55fb1929b79e

Tasikundercover — Oleh Sultan Delpohon

 

WhatsApp Image 2026 08 27 at 21.28.13

JAKARTA, 27 Agustus 2026 — Dua pemuda asal Tasikmalaya, Ade dan Masqur, memilih meninggalkan aktivitas pekerjaan dan datang ke Jakarta untuk bergabung dalam aksi masyarakat di depan Gedung DPR RI, Kamis (27/8/2026).

Keduanya hadir untuk menyatakan dukungan terhadap perjuangan Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) bersama elemen masyarakat lainnya yang mendesak DPR RI segera menyelesaikan dan mengesahkan RUU Perampasan Aset.

Bagi Ade dan Masqur, perjalanan dari Tasikmalaya menuju Jakarta bukan sekadar perjalanan biasa. Mereka mengaku tergerak setelah melihat masih ada masyarakat yang bersedia turun ke ruang publik untuk menyuarakan agenda pemberantasan korupsi dan pengembalian aset negara.

Berangkat menggunakan kereta api bersama rekan-rekannya, Ade dan Masqur kemudian bergabung dengan barisan AMPB serta peserta aksi lainnya. Mereka turut membersamai Mas Botok, Mas Ali, dan Mas Teguh dalam rangkaian kegiatan tersebut.

Selama aksi berlangsung, keduanya mengaku mengikuti arahan koordinator dan tetap berada dalam satu komando. Tidak hanya mengikuti jalannya aksi, Ade dan Masqur juga ikut membantu membagikan logistik kepada para peserta yang hadir di sekitar Gedung DPR RI.

Menurut keduanya, kegiatan berlangsung kondusif. Meski terdapat kekecewaan karena hasil yang diharapkan belum sepenuhnya terwujud pada hari itu, mereka memilih tetap menghargai proses audiensi yang dilakukan perwakilan AMPB di dalam gedung parlemen.

Mereka juga menyambut hasil audiensi yang, menurut keterangan yang diterima Tasikundercover, menempatkan 15 Desember 2026 sebagai batas waktu yang menjadi perhatian massa terkait pengesahan RUU Perampasan Aset.

Apabila hingga batas waktu tersebut RUU Perampasan Aset belum disahkan, massa menyuarakan tuntutan agar pimpinan dan anggota DPR yang dianggap gagal menjalankan mandat politik rakyat bersedia mempertanggungjawabkan posisinya.

Baca Juga  Melindungi Anak di Media Sosial: Kenapa Ini Jadi Isu Serius di Indonesia

Kami datang karena masih ada yang memikirkan negeri ini. Walaupun harus meninggalkan pekerjaan dan menempuh perjalanan dari Tasikmalaya, kami ingin tetap berada dalam barisan dan membersamai perjuangan ini,” demikian keterangan Ade dan Masqur.

Keduanya menegaskan bahwa kehadiran mereka merupakan bentuk solidaritas sebagai warga negara dalam menyampaikan aspirasi secara damai dan konstitusional.

Bagi Ade dan Masqur, persoalan pemberantasan korupsi bukan hanya urusan Jakarta. Ketika uang dan aset negara menjadi persoalan, masyarakat daerah pun memiliki hak untuk bersuara.

Dari Tasikmalaya menuju Jakarta, langkah dua pemuda itu menjadi bagian dari dinamika aksi 27 Agustus 2026—sebuah perjalanan yang mereka pilih untuk menunjukkan bahwa suara rakyat dari daerah pun dapat sampai ke depan pintu gedung parlemen.

Tasikundercover | Sultan Delpohon

Posted by Sultan Firman s

Pemerhati sejarah lokal priangan

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *