Tugu Direvitalisasi Rp1,6 Miliar, Jalan Berlubang, Sampah Menggunung, Air Bersih Sulit: Kota Sedang Dipoles atau Masalah Rakyat Sedang Ditutup?

ChatGPT Image 28 Jul 2026 08.04.20

Media Tasikmalaya Undercover – Dari Rakyat Untuk Rakyat

Oleh: Sultan Delpohon
Pasukan Revolusi Tasikmalaya

 

Tasikmalaya kembali memiliki kabar gembira. Bukan karena jalan Pasar Cikurubuk akhirnya mulus. B

1001162236

ukan pula karena tumpukan sampah berhasil lenyap dari sudut-sudut kota. Apalagi karena seluruh warga telah menikmati air bersih dan sanitasi yang layak.

Kabar baik itu adalah Tugu Koperasi direvitalisasi dengan anggaran sekitar Rp1,6 miliar.

Konon demi menjaga sejarah. Tentu sejarah memang penting. Namun sejarah juga akan mencatat, pada saat batu-batu monumen dipoles hingga mengilap, masih ada rakyat yang setiap hari harus menghindari lubang di jalan, mencium aroma sampah yang menggunung, dan mengantre air bersih ketika kemarau datang.

Ironisnya, jalan menuju pusat ekonomi terbesar Kota Tasikmalaya, Pasar Cikurubuk, masih menyuguhkan “wisata adrenalin”. Lubang demi lubang menjadi bonus bagi pengendara. Seakan-akan pemerintah ingin menguji ketangguhan suspensi kendaraan warga, bukan memperbaiki infrastruktur yang menjadi urat nadi perdagangan.

Di sisi lain, sampah masih setia menghiasi berbagai sudut kota. Mungkin kini sampah telah resmi menjadi bagian dari identitas visual Tasikmalaya. Datanglah ke beberapa ruas jalan, gang, maupun kawasan pasar, maka “gunungan sampah” akan menyambut lebih cepat daripada baliho pembangunan.

Belum selesai sampai di situ. Di wilayah Kecamatan Mangkubumi, masih terdapat warga yang mengandalkan MCK umum dan sumur bersama. Saat musim kemarau tiba, debit air menurun, sementara kebutuhan hidup tetap berjalan. Air bersih bukan lagi soal kenyamanan, melainkan kebutuhan dasar yang menentukan kesehatan masyarakat.

Namun di tengah kenyataan itu, yang lebih dulu dipercantik justru sebuah tugu.

Masyarakat tentu tidak menolak pelestarian cagar budaya. Justru sejarah mengajarkan bahwa sebuah peradaban besar dibangun di atas kesejahteraan rakyatnya. Monumen memang bisa menjadi simbol kebanggaan, tetapi jalan yang layak, lingkungan yang bersih, sanitasi yang sehat, dan akses air bersih adalah simbol kehadiran negara yang sesungguhnya.

Baca Juga  “Uang Rakyat, Kampus Hantu: Sketsa Ketimpangan yang Dipelihara”

Tak heran jika di tengah ruang publik muncul satire yang menyebut wali kota sebagai “Pelari Kalcer”. Julukan itu bukan sekadar lelucon, melainkan ekspresi kekecewaan sebagian warga yang menilai aktivitas seremonial dan pencitraan lebih sering terlihat dibanding penyelesaian persoalan yang mereka hadapi setiap hari.

Karena pada akhirnya, rakyat tidak memilih pemimpin untuk berlomba memotong pita. Rakyat memilih pemimpin agar jalan diperbaiki, sampah diangkut tepat waktu, air bersih mengalir, pelayanan publik membaik, dan uang rakyat digunakan berdasarkan skala prioritas.

Tugu yang indah memang enak dipandang.

Tetapi jalan rusak tidak bisa ditutupi dengan cat baru.

Sampah tidak hilang karena lampu sorot peresmian.

Air bersih tidak mengalir hanya karena pidato pembangunan.

Dan rakyat tidak akan kenyang oleh foto-foto seremoni.

Anggaran daerah semestinya berpihak pada kebutuhan yang paling mendesak. Sebab keberhasilan pembangunan tidak diukur dari megahnya monumen atau banyaknya seremoni, melainkan dari seberapa besar persoalan rakyat benar-benar diselesaikan.

Karena sejarah bukan hanya dibangun oleh batu dan semen.

Sejarah dibangun oleh keberanian menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pencitraan.


Media Tasikmalaya Undercover
“Dari Rakyat Untuk Rakyat”

Penulis: Sultan Delpohon
**Pasukan Revolusi Tasikmalaya

Posted by Sultan Firman s

Pemerhati sejarah lokal priangan

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *