Tasikmalaya hari ini tidak kekurangan pemimpin yang pandai berlari.
Yang kurang adalah pemimpin yang mampu menyelesaikan masalah.
Di tengah riuhnya konten pagi, sepatu lari, dan jargon hidup sehat, publik disuguhi satu pertanyaan yang semakin sulit dihindari:
ini kepemimpinan, atau sekadar pertunjukan?
Sosok yang dijuluki “pelari kalcer” tampil begitu dominan di ruang publik—berlari dari satu momen ke momen lain, dari satu kamera ke kamera berikutnya. Narasi yang dibangun rapi: aktif, energik, dekat dengan rakyat.
Tapi pertanyaannya sederhana:
apa dampaknya?
Lari Kencang, Tapi Masalah Jalan di Tempat
Mari jujur.
Rakyat tidak hidup dari konten.
Sementara sang pemimpin berlari mengejar kilometer, masyarakat justru tertinggal dalam persoalan yang itu-itu saja:
- Kemiskinan yang tak kunjung turun signifikan
- Stunting yang masih jadi ancaman nyata
- Guru honorer yang nasibnya terus menggantung
- Sampah kota yang tak kunjung tertata
Jalan rusak tetap rusak.
Drainase tetap bermasalah.
Terminal bayangan tetap ada.
Ironisnya, semua itu berjalan paralel dengan satu hal:
citra yang terus dipoles seolah semuanya baik-baik saja.
Kritik Muncul, Tapi Seperti Ditabrak Lari Pagi
Spanduk kritik bermunculan di Bale Kota.
Mahasiswa bersuara.
Legislatif mulai mempertanyakan.
Ini bukan kebetulan. Ini akumulasi.
Namun yang jadi masalah bukan hanya kritiknya—
melainkan bagaimana kritik itu dihadapi.
Alih-alih membuka ruang dialog, yang terlihat justru kecenderungan untuk tetap nyaman di zona aman: panggung pencitraan.
Seolah-olah selama kamera masih menyala, semua akan tetap terkendali.
Program Hebat di Atas Kertas, Lemah di Lapangan
Nama-nama program terdengar meyakinkan:
- Tasik Pintar
- Tasik Gemas
- Tasik Pelak
- Tasik Melayani
- Tasik Nyaman
Semua terdengar indah. Visioner. Menjanjikan.
Tapi publik tidak hidup di atas kertas.
Ketika implementasi tidak terasa, program hanya jadi hiasan narasi—bukan solusi nyata.
Dan masyarakat mulai paham membedakan:
mana kerja, mana slogan.
Kontras yang Menampar: Saat Tanpa Jabatan, Dampak Justru Terasa
Di tengah riuh pencitraan, muncul ironi yang sulit diabaikan.
Seorang anak muda—tanpa jabatan, tanpa fasilitas kekuasaan—justru mampu membawa nama Tasikmalaya ke panggung dunia.
Fiona Callaghan.
Bukan lewat konten.
Bukan lewat gimmick.
Tapi lewat kerja nyata.
Lewat Karinding Sadulur, ia mengantarkan budaya lokal tampil di festival internasional. Mengurus administrasi, mencari jalan di tengah keterbatasan, memastikan budaya Sunda tidak hanya hidup—tetapi dikenal dunia.
Tidak ada panggung politik.
Tidak ada kekuasaan.
Yang ada hanya: komitmen dan kerja.
Dan hasilnya? Nyata.
Tamparan untuk Kepemimpinan: Jabatan Bukan Jaminan Manfaat
Di sinilah publik mulai membandingkan—dan itu wajar.
Bagaimana mungkin yang punya kekuasaan besar terlihat minim dampak,
sementara yang tanpa jabatan justru memberi kontribusi nyata?
Ini bukan soal siapa lebih hebat.
Ini soal satu hal mendasar: kebermanfaatan.
Karena pada akhirnya, rakyat tidak peduli seberapa sering pemimpinnya muncul di layar.
Rakyat peduli:
apa yang berubah dalam hidup mereka?
Penutup: Berhenti Lari dari Substansi
Tasikmalaya tidak butuh pemimpin yang sekadar kuat berlari.
Tasikmalaya butuh pemimpin yang berani berhenti sejenak—
melihat, mendengar, dan menyelesaikan.
Karena sejarah tidak mencatat siapa yang paling cepat berlari.
Sejarah mencatat siapa yang paling nyata memberi arti.
Dan hari ini, publik mulai sadar:
lari bisa dipertontonkan, tapi kerja nyata tidak bisa dipalsukan
Pemerhati sejarah lokal priangan
No comments yet