TASIKMALAYA UNDERCOVER — Puluhan driver Maxim di Kota Tasikmalaya menggelar aksi solidaritas pada Kamis, 10 September 2026. Aksi tersebut menjadi bentuk keresahan para pengemudi yang menilai sejumlah kebijakan aplikator justru semakin membebani mitra pengemudi.

Massa driver menyuarakan persoalan kesejahteraan, terutama terkait potongan pendapatan dan kebijakan “turbo” yang menurut mereka merugikan driver. Para pengemudi mempertanyakan bagaimana mungkin mereka disebut sebagai mitra, tetapi pada saat yang sama harus menanggung beban operasional dan potongan yang dinilai semakin berat.
Aksi berlangsung dengan melintasi sejumlah ruas jalan di Kota Tasikmalaya. Rute yang dilalui massa antara lain Balai Kota, Jalan Ir. H. Djuanda, Jalan R.E. Martadinata, Simpang Lima, Dokar, Jalan HZ Mustofa, Jalan Siliwangi, hingga Jalan Peta.
Menuntut Keadilan, Bukan Sekadar Tarif
Para driver menilai persoalan yang mereka hadapi bukan sekadar soal nominal tarif perjalanan. Di balik setiap order terdapat biaya bahan bakar, perawatan kendaraan, waktu kerja, risiko di jalan, hingga kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi.
Mereka mempertanyakan besarnya potongan yang dianggap tidak sebanding dengan pendapatan yang diterima.
Menurut massa aksi, aplikator seharusnya tidak hanya berorientasi pada sistem aplikasi dan keuntungan perusahaan. Kesejahteraan driver sebagai mitra juga semestinya menjadi perhatian utama.
Keresahan semakin memuncak ketika para driver menyampaikan tuntutan mereka di depan kantor Maxim. Sejumlah peserta aksi bahkan melakukan orasi sebagai bentuk perjuangan untuk mempertahankan hak dan penghasilan mereka.
Suasana aksi sempat diwarnai luapan emosi. Para driver meminta pihak aplikator mendengarkan langsung persoalan yang mereka alami di lapangan.
“Mitra” atau Justru Menanggung Beban?
Istilah mitra kembali menjadi pertanyaan besar dalam aksi tersebut.
Jika driver disebut sebagai mitra, maka hubungan kerja sama semestinya memberikan ruang yang adil bagi kedua belah pihak. Driver tidak boleh hanya menjadi pihak yang menanggung risiko ketika biaya operasional meningkat, sementara kebijakan aplikasi dan potongan pendapatan tetap berjalan.
Pertanyaannya sederhana: ketika pendapatan dipotong, biaya operasional ditanggung driver, lalu siapa yang sebenarnya paling menikmati sistem tersebut?
Keresahan itu yang kemudian menyatukan para driver dalam aksi solidaritas.
Mereka menegaskan bahwa perjuangan tersebut bukan sekadar persoalan individu. Ada keluarga yang harus dinafkahi dan ada kebutuhan hidup yang bergantung pada penghasilan dari jalanan.
Penghapusan “Turbo” Jadi Salah Satu Tuntutan
Salah satu poin yang menjadi sorotan utama massa adalah kebijakan turbo yang diterapkan aplikator Maxim.
Para driver menilai keberadaan turbo justru menambah beban dan berpotensi merugikan pengemudi. Karena itu, mereka mendorong agar kebijakan tersebut dihapus atau ditinjau ulang secara terbuka dengan melibatkan driver.
Bagi para pengemudi, kebijakan aplikasi tidak semestinya dibuat sepihak tanpa mempertimbangkan kondisi nyata yang mereka hadapi setiap hari.
Driver bukan sekadar akun yang menerima order. Mereka adalah manusia yang menghabiskan waktu berjam-jam di jalan dan menghadapi berbagai risiko demi mendapatkan penghasilan.
Jangan Jadikan Driver Sekadar Mesin Penghasil Keuntungan
Aksi driver Maxim di Tasikmalaya menjadi pengingat bahwa perkembangan ekonomi digital tidak boleh mengorbankan pekerja di lapangan.
Platform digital memang memberikan akses terhadap pekerjaan dan pelanggan. Namun, ketika sistem tersebut menghasilkan keluhan luas dari mitra mengenai potongan dan kebijakan yang dianggap memberatkan, maka transparansi dan evaluasi menjadi sebuah keharusan.
Jika aspirasi driver terus diabaikan, konflik antara aplikator dan mitra berpotensi semakin melebar.
Karena itu, tuntutan para driver patut dijawab secara terbuka: berapa besar potongan yang sebenarnya diterapkan, untuk apa potongan tersebut digunakan, bagaimana mekanisme turbo bekerja, dan apakah kebijakan tersebut benar-benar memberikan manfaat yang adil bagi driver?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membutuhkan jawaban, bukan sekadar slogan kemitraan.
Tasikmalaya Undercover memandang aksi ini sebagai bagian dari suara pekerja jalanan yang menuntut keadilan dalam ekonomi digital.
Driver bekerja di jalan. Mereka menghadapi panas, hujan, kemacetan, risiko kecelakaan, serta tuntutan ekonomi keluarga.
Maka ketika mereka bersatu dan turun ke jalan, pesan yang disampaikan jelas:
Mereka tidak sedang meminta belas kasihan. Mereka sedang menuntut sistem kemitraan yang lebih adil.
Jika sebuah sistem digital mengatasnamakan kemitraan tetapi pihak yang berada di lapangan merasa terus terbebani, maka sistem tersebut layak dipertanyakan dan dievaluasi.
Rakyat bekerja bukan untuk ditindas oleh sistem.
Tasikmalaya Undercover — Dari Rakyat, Untuk Rakyat.
Pemerhati sejarah lokal priangan

No comments yet