Jangan bicara ketahanan pangan—jika air saja tak sampai ke sawah.
Di Kota Tasikmalaya, krisis bukan lagi soal program. Krisisnya adalah keberanian. Keberanian untuk bekerja, bukan sekadar berbicara. Keberanian untuk menandatangani, bukan menunda. Karena sejak 21 April 2025, satu hal sederhana saja tak mampu diselesaikan: SK pengurus FKPDAS tak kunjung diteken. Sigit Wahyu, Ketua FKPDAS, sudah berulang kali mendorong agar persoalan drainase dan irigasi segera ditangani. Tapi yang ia hadapi bukan perdebatan teknis—melainkan tembok sunyi bernama birokrasi.
Apa yang sebenarnya ditunggu?
Lari Cepat, Air Tetap Macet
Di ruang publik, citra gerak begitu ditonjolkan. Lari pagi, lari siang, lari dalam agenda. Seolah-olah gerak adalah bukti kerja.
Namun di lapangan, air tetap tak bergerak.
Di Mangkubumi, yang disebut sebagai prioritas pertanian, Sigit Wahyu justru menemukan kenyataan pahit: irigasi mati, saluran tersumbat, dan sawah yang kehilangan aliran kehidupan.
Gerak ada—tapi bukan untuk menyelesaikan masalah.
Cepat di kaki, lambat di kebijakan.
Ini bukan sekadar ironi. Ini kegagalan yang dipertontonkan.
Percakapan yang Lebih Jujur dari Panggung
Dalam satu diskusi santai, Sigit Wahyu berbincang dengan Sultan Delpohon Mangkubumi. Tidak ada kamera, tidak ada panggung—hanya kejujuran yang tak bisa dipoles.
Sultan Delpohon berkata lirih:
“Muhun kang, kadang lamun tos seremonial mah tos we beres. Ari prakna mah teu katingali.”
Selesai di seremoni. Hilang di realisasi.
Percakapan itu lalu berubah menjadi satire yang menampar:
“Jurig ogé ngajaga tangkal, ngajaga leuweung, ngajaga gunung, ngajaga susukan. Ari nu boga kawijakan—teu katingali gawéna.”
Tawa sempat terdengar. Tapi setelah itu, sunyi.
Karena semua tahu—itu bukan sekadar candaan.
Masalah Sederhana yang Tak Pernah Diselesaikan
Sigit Wahyu tidak menuntut proyek raksasa.
Ia hanya meminta yang paling dasar:
Drainase.
Irigasi.
Air.
Namun di Tasikmalaya, bahkan hal paling sederhana pun terasa mustahil diselesaikan.
Bandingkan dengan Karawang, yang fokus pada perbaikan irigasi melalui program optimalisasi lahan. Air dijadikan prioritas, bukan sekadar wacana.
Di Tasikmalaya?
Yang mengalir bukan air—tapi alasan.
Tasikmalaya Sedang Berlari di Tempat
Sultan Delpohon menyebutnya dengan nada getir:
“Tasik ayeuna mah siga nu lumpat, tapi teu kamana-mana.”
Tasikmalaya terlihat bergerak, tapi tidak maju.
Berlari, tapi di tempat.
Program ada. Forum ada. Agenda ada.
Tapi hasilnya nihil.
Seperti pelari yang tak pernah mencapai garis akhir—hanya mengulang gerakan tanpa arah.
Petani Tidak Butuh Aksi Simbolik
Sigit Wahyu sudah mendengar langsung jeritan petani:
Bukan soal inovasi.
Bukan soal visi.
Tapi soal yang paling mendasar:
air tidak sampai ke sawah.
Jika air tak mengalir, maka semua omongan tentang ketahanan pangan hanyalah slogan kosong.
Penutup: Berhenti Berlari, Mulai Bekerja
Tasikmalaya tidak kekurangan gerak.
Tasikmalaya kekurangan arah.
Sigit Wahyu sudah berbicara.
Sultan Delpohon sudah mengingatkan.
Petani sudah menjerit.
Sekarang tinggal satu pertanyaan:
Apakah pemerintah akan terus berlari untuk dilihat,
atau mulai bekerja untuk dirasakan?
Teken SK yang tertunda.
Perbaiki drainase yang rusak.
Hidupkan irigasi yang mati.
Jika tidak—berhenti bicara ketahanan pangan.
Karena rakyat sudah terlalu lama dipaksa sabar.
Dan kesabaran yang dipaksa terlalu lama,
akan berubah menjadi sesuatu yang tak bisa lagi dibendung.
ini gambar di beberapa titik mangkrak tempat kopdar ririwa di irigasi
Kebenaran tidak butuh izin. Ia akan datang—dan merebut ruangnya sendiri.
Pemerhati sejarah lokal priangan
No comments yet